Bursakota.co.id, Anambas – Harapan masyarakat di Kecamatan Siantan Timur, Kabupaten Kepulauan Anambas, terhadap pembangunan akses Jalan Lingkar Bajau hingga kini belum menemukan titik terang.
Infrastruktur yang sejak lama dinanti itu masih sebatas janji, sementara kondisi di lapangan belum menunjukkan progres signifikan, Rabu (18/02/2026).
Warga menilai wilayah mereka seolah “dianaktirikan” dalam skala prioritas pembangunan daerah.
Selama dua periode kepemimpinan bupati sebelumnya, pembangunan Jalan Lingkar Bajau disebut baru sebatas kelanjutan pengerasan saja.
“Sudah lama dibuka lahannya, tapi sampai sekarang belum ada kelanjutan yang jelas. Kami hanya bisa berharap,” ujar salah seorang tokoh masyarakat setempat, belum lama ini.
Jalan Lingkar Bajau dinilai memiliki peran penting dalam membuka keterisolasian sejumlah wilayah pesisir dan permukiman masyarakat. Selain memperlancar mobilitas warga, akses tersebut diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, dan meningkatkan akses layanan pendidikan dan kesehatan.
Selama ini, sebagian masyarakat masih mengandalkan jalur laut dan akses darat terbatas yang kondisinya belum memadai, terutama saat musim hujan. Kondisi tersebut kerap menyulitkan aktivitas harian warga.
“Kalau hujan, jalan licin dan sulit dilalui. Anak-anak sekolah dan warga yang hendak berobat sering terkendala,” ungkap warga lainnya.
Memasuki masa kepemimpinan Bupati Aneng, masyarakat Siantan Timur kembali menaruh harapan besar terhadap realisasi pembangunan jalan tersebut. Namun hingga saat ini, belum ada kejelasan resmi terkait kelanjutan proyek Jalan Lingkar Bajau.
Sejumlah warga berharap pemerintah daerah dapat memberikan kepastian, baik dalam bentuk perencanaan yang transparan maupun alokasi anggaran yang jelas dalam dokumen pembangunan daerah.
“Minimal ada kepastian, apakah dilanjutkan atau seperti apa. Jangan sampai hanya jadi wacana tiap pergantian kepemimpinan,” tambahnya.
Situasi ini kembali memunculkan diskusi mengenai pemerataan pembangunan di wilayah Kabupaten Kepulauan Anambas. Sebagai daerah kepulauan, tantangan geografis memang menjadi faktor tersendiri.
Namun masyarakat menilai, pembangunan infrastruktur dasar seperti jalan tetap harus menjadi prioritas untuk mendorong kesejahteraan.
Warga berharap pemerintah daerah dapat meninjau ulang skala prioritas pembangunan, khususnya di wilayah-wilayah yang selama ini dinilai belum tersentuh secara optimal.
“Siantan Timur bagian dari Anambas juga. Kami ingin merasakan pembangunan yang sama seperti kecamatan lainnya,” tegasnya kembali.
Kini, Jalan Lingkar Bajau bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan simbol harapan masyarakat terhadap keadilan pembangunan. Masyarakat menanti langkah konkret, bukan sekadar janji yang berulang di setiap periode kepemimpinan.(BK/Jun).













