
Bursakota.co.id, Anambas – Upaya pengembangan potensi lokal berbasis konservasi lingkungan terus digencarkan di Kabupaten Kepulauan Anambas. Salah satunya melalui Workshop Teknis Membatik Pewarna Alami Batik Mangrove yang digelar di Desa Genting Pulur, Kecamatan Jemaja Timur, Kamis (08/01/2026).
Kegiatan tersebut menjadi wujud nyata pelestarian lingkungan sekaligus budaya, dengan memanfaatkan mangrove sebagai sumber pewarna alami batik. Workshop ini diikuti oleh para pelajar dari SMA Negeri 1 Jemaja dan SMK Negeri 3 Anambas yang tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.
Workshop diawali dengan pembukaan dan doa bersama, kemudian dilanjutkan dengan sambutan Ketua Komunitas Konservasi Mangrove, Penyu, Alam, dan Karang, Syahrul Hidayat, S.Tr.Pi. Ia menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari edukasi lingkungan untuk menanamkan kesadaran generasi muda akan pentingnya menjaga ekosistem mangrove.
“Selain berfungsi sebagai pelindung pesisir dan habitat biota laut, mangrove juga memiliki nilai ekonomi kreatif yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan. Melalui batik mangrove, pemanfaatan sumber daya alam dapat dilakukan tanpa merusak lingkungan,” ujarnya.
Syahrul Hidayat berharap para pelajar dapat menjadi agen perubahan yang mampu melanjutkan semangat konservasi dan inovasi di masa mendatang. Sebagai mana juga ini merupakan salah satu program pemeberdyaan Masyarakat dari Harbour Energy yang pada tahun 2023 yang mengedepan pemanfaatan dari limbah-limbah mangrove.
“Melalui workshop ini, diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi pelestarian lingkungan, penguatan identitas lokal, serta peningkatan kapasitas generasi muda dalam mengembangkan ekonomi kreatif berbasis konservasi,” harap Ketua KOMPAK Syahrul Hidayat sebagai pendamping Kelompok Batik Mangrove Genting Pulur.

Sementara itu, Kepala Desa Genting Pulur, Abdul Rahman, S.Pi., mengungkapkan apresiasi atas terselenggaranya workshop tersebut di wilayahnya.
Menurutnya, kegiatan ini sejalan dengan visi desa dalam mengembangkan potensi berbasis sumber daya alam lokal yang ramah lingkungan.
“Batik mangrove merupakan identitas baru Desa Genting Pulur yang harus terus dikembangkan dan diperkenalkan kepada masyarakat luas. Kami berharap kegiatan seperti ini dapat berkelanjutan dan melibatkan lebih banyak masyarakat, khususnya generasi muda,” katanya.
Dukungan penuh juga disampaikan Plt. Camat Jemaja Timur, Tetti Amalia, SE. Ia menegaskan bahwa kolaborasi antara komunitas konservasi, pemerintah desa, sekolah, dan pemerintah kecamatan merupakan kunci keberhasilan pembangunan berkelanjutan.
“Keterlibatan pelajar SMA dan SMK sangat strategis dalam menyiapkan generasi muda yang peduli lingkungan, kreatif, dan berdaya saing. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di Jemaja Timur,” ujarnya.
Para peserta kemudian diberikan materi teknis membatik menggunakan pewarna alami dari mangrove dan dibekali pengetahuan tentang jenis mangrove yang dapat dimanfaatkan sebagai pewarna, proses pengolahan bahan, teknik mencanting, pewarnaan, hingga penguncian warna. Dengan pendampingan fasilitator, para pelajar mempraktikkan langsung proses membatik dengan penuh antusias.(BK/Jun).












