Di Tengah Riuh Pelabuhan, Cen Sui Lan Titip Pesan untuk Ibu dan Bayi yang Mudik

0
23
FOTO : Bupati Natuna Cen Sui Lan saat menyapa dan beri pesan kepada ibu yang membawa bayi saat mudik lebaran di Pelabuhan Penagi, Ranai

Natuna – Pagi itu, suasana di Pelabuhan Sri Payung Penagi, Kabupaten Natuna, terasa berbeda. Derap langkah para pemudik, suara panggilan keberangkatan, serta riuh percakapan keluarga yang bersiap pulang kampung menyatu dalam satu irama irama rindu yang sebentar lagi akan terbayar.

Di antara keramaian itu, hadir Bupati Natuna, Cen Sui Lan. Tanpa jarak, ia menyusuri pelabuhan, mendekat ke para penumpang, menyapa dengan senyum hangat, seolah ingin memastikan bahwa setiap orang yang berangkat membawa rasa aman.

Langkahnya terhenti saat melihat seorang ibu yang menggendong bayi di tengah antrean penumpang kapal Roro. Di tengah padatnya arus mudik, momen itu terasa sederhana, namun menyentuh.

Cen Sui Lan mendekat, menundukkan sedikit badan, lalu menyapa dengan penuh perhatian.

“Hati-hati ya, Bu. Bawa anak yang masih bayi harus dijaga betul kondisinya selama di dalam kapal,” ucapnya pelan.

Kalimat itu mungkin singkat, namun bagi sang ibu, perhatian tersebut menjadi penguat di tengah perjalanan yang tidak mudah. Laut yang tak selalu bersahabat, perjalanan yang panjang, serta kondisi bayi yang rentan semuanya menjadi kekhawatiran yang diam-diam dirasakan banyak orang tua.

Di dek kapal, angin laut berhembus pelan. Beberapa penumpang tampak sibuk menata barang bawaan, sementara anak-anak kecil sesekali menangis atau tertidur dalam pelukan.

Di sanalah, kehadiran seorang pemimpin terasa bukan hanya sebagai pengawas, tetapi juga sebagai pengingat akan hal paling mendasar: keselamatan.

Tak berhenti pada penumpang, Cen Sui Lan juga menegaskan kepada para Anak Buah Kapal (ABK) dan operator pelayaran agar tidak lengah. Ia meminta agar setiap prosedur keselamatan dijalankan dengan penuh tanggung jawab.

“Keselamatan harus menjadi prioritas utama. Jangan sampai ada yang diabaikan,” tegasnya.

Di tengah euforia mudik yang identik dengan kebahagiaan dan pertemuan keluarga terselip tanggung jawab besar untuk memastikan setiap perjalanan berakhir dengan selamat.

Peninjauan ini menjadi lebih dari sekadar rutinitas tahunan. Ia menjelma menjadi potret kedekatan antara pemimpin dan masyarakatnyadi mana perhatian tidak hanya hadir dalam kebijakan, tetapi juga dalam sentuhan-sentuhan kecil yang berarti.

Di pelabuhan itu, di antara suara mesin kapal yang bersiap berlayar, tersimpan doa-doa yang sama: agar perjalanan ini aman, agar keluarga dapat berkumpul kembali, dan agar rindu yang dibawa sejauh laut bisa terbayar dengan pelukan hangat di kampung halaman.

Editor : Papi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini