Kontainer Reefer Kosong di Rute Jakarta–Natuna Picu Kritik, Pasokan Ayam Anjlok 15 Ton

0
12
FOTO : Pengiriman kontainer berpendingin (reefer) dalam kondisi kosong di rute Jakarta menuju Natuna

Natuna – Pengiriman kontainer berpendingin (reefer) dalam kondisi kosong di rute Jakarta menuju Natuna memicu kritik dari pelaku usaha dan pengguna jasa tol laut. Insiden ini berdampak langsung pada turunnya pasokan daging ayam ras hingga 15 ton dalam sebulan.

Kontainer yang tercatat dalam manifes kapal KM Logistik Nusantara 4 tersebut diketahui berangkat tanpa muatan dari Pelabuhan Tanjung Priok menuju Pelabuhan Selat Lampa. Kondisi ini dinilai janggal dan mencerminkan lemahnya pengelolaan distribusi logistik untuk komoditas strategis.

Sebelumnya, kontainer tersebut direncanakan mengangkut daging ayam beku. Namun akibat kosongnya muatan, pasokan ke Natuna turun signifikan dari sekitar 45 ton menjadi hanya 30 ton pada bulan ini.

Kondisi ini tidak hanya dipandang sebagai kendala teknis, tetapi juga mengindikasikan belum optimalnya koordinasi dalam rantai pasok logistik, khususnya di wilayah perbatasan yang sangat bergantung pada program tol laut.

Salah satu pengguna jasa yang enggan disebutkan namanya mempertanyakan mekanisme distribusi yang dinilai tidak transparan.

“Seharusnya reefer itu digunakan untuk distribusi daging ayam beku ke Natuna. Tapi kenyataannya kosong meski sudah disegel,” ujarnya, Sabtu malam (28/3/2026).

Keterbatasan kuota kontainer reefer di rute ini semakin memperparah situasi. Pelaku usaha menilai setiap slot pengiriman seharusnya dimanfaatkan maksimal, mengingat tingginya kebutuhan logistik di daerah kepulauan seperti Natuna.

Kepala Cabang PT Sarana Bandar Logistik (SBL) Natuna, Anto Raswanto, membenarkan adanya penurunan pasokan akibat satu kontainer kosong.

“Bulan lalu tiga kontainer atau sekitar 45 ton. Karena satu kontainer kosong, bulan ini hanya 30 ton,” jelasnya.

Sementara itu, Staf Operasional Ekspedisi PT Multi Terminal Indonesia (MTI) Cabang Natuna, Tarkim, mengakui kejadian tersebut disebabkan miskomunikasi antara pengirim dan pemasok.

“Iya, memang ada satu kontainer yang kosong. Itu bukan faktor kesengajaan, melainkan karena miskomunikasi,” ujarnya saat dikonfirmasi di Pelabuhan Selat Lampa.

Menurutnya, kontainer tetap diberangkatkan demi menjaga jadwal pelayaran. Pihak ekspedisi telah menetapkan batas waktu (closing) muatan, namun hingga tenggat, barang belum tersedia.

“Besar kemungkinan pemasok belum siap, bisa karena stok atau faktor libur Lebaran,” tambahnya.

Ia juga menjelaskan bahwa setiap kontainer memiliki kapasitas hingga 20 ton dan digunakan dalam sistem rotasi tol laut. Dalam kasus ini, muatan tertinggal karena keterlambatan, sementara kapal tidak memungkinkan untuk menunggu.

“Statusnya barang ketinggalan kapal, sehingga kontainer tetap berangkat kosong,” tegasnya.

Meski demikian, pengguna jasa menilai kejadian ini seharusnya bisa diantisipasi melalui koordinasi yang lebih matang. Apalagi, distribusi pangan ke wilayah perbatasan seperti Natuna sangat bergantung pada ketepatan sistem logistik.

Para pelaku usaha pun mendesak operator tol laut dan instansi terkait untuk memberikan penjelasan resmi serta melakukan evaluasi menyeluruh. Transparansi dan akuntabilitas dinilai menjadi kunci agar distribusi bahan pangan tidak kembali terganggu di masa mendatang.(Bk/Dod)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini