
Bursakota.co.id, Buton Selatan — Puluhan tahun terbungkus semak belukar, Situs Kampung Lama Laompo di Kelurahan Laompo, Kabupaten Buton Selatan, kembali dibuka dan dibersihkan. Upaya tersebut dilakukan melalui gotong royong lintas elemen masyarakat yang dipelopori Lurah Laompo, Sabtu (26/9/2026).
Kegiatan yang dikemas dalam kurve budaya dan pembersihan kawasan itu menjadi langkah awal untuk menghidupkan kembali jejak sejarah serta kebudayaan masyarakat Laompo yang selama bertahun-tahun nyaris tak tersentuh.
Gotong royong melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari tokoh adat, Parabela dan lembaga adat, tokoh agama, perangkat masjid, tokoh masyarakat, pemuda, hingga warga dari lingkungan Laompo dan Burukene. Kegiatan tersebut juga mendapat dukungan Bhabinkamtibmas serta jajaran anggota TNI di Buton Selatan.
Dengan peralatan seadanya, masyarakat bersama aparat membersihkan semak belukar, memangkas pepohonan liar, serta membuka kembali akses menuju kawasan situs. Pembersihan tersebut secara perlahan menyingkap struktur benteng batu yang selama ini tertutup rapat oleh vegetasi.
Meski telah puluhan tahun ditinggalkan, struktur benteng Kampung Lama Laompo masih tampak kokoh. Dinding batu yang kembali terlihat menjadi pengingat bahwa kawasan tersebut pernah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Laompo pada masa lampau.
Lurah Laompo, Wa Amuma, mengatakan kegiatan tersebut bukan sekadar aksi membersihkan lahan, melainkan bagian dari upaya mengembalikan ingatan kolektif masyarakat terhadap akar sejarah dan budaya leluhur.
“Aksi bersih-bersih ini bukan sekadar membersihkan lahan. Fokus utama kami adalah ingin mengangkat kembali roh dan budaya masyarakat Laompo yang sebelumnya ada sewaktu masih bermukim di Kampung Lama ini,” ujarnya.
Menurutnya, keberadaan benteng dan situs bersejarah tersebut perlu dijaga agar tidak hilang ditelan waktu dan belukar.
“Kami tidak ingin benteng dan sejarah kokoh ini hilang ditelan hutan, karena di situlah akar jati diri masyarakat Laompo berada,” tegasnya.
Senada, Relawan Literasi Masyarakat (RELIMA) Buton Selatan, Rizkiani, menilai pembukaan kembali kawasan Kampung Lama Laompo memiliki arti penting bagi generasi mendatang.
Ia berharap situs tersebut dapat menjadi sarana bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mengenal kembali sejarah dan tradisi masyarakat Laompo.
“Kami berharap kegiatan ini menjadi media untuk mengenal kembali budaya asli masyarakat Laompo, sekaligus memberikan informasi kepada generasi penerus tentang tradisi dan kehidupan masyarakat Laompo di masa lampau,” katanya.
Rizkiani juga mendorong generasi milenial dan generasi muda untuk mengambil peran dalam menjaga sekaligus memperkenalkan warisan budaya lokal.
“Generasi muda harus menjadi garda terdepan dalam menjaga dan mempromosikan warisan budaya leluhur seperti ini,” ujarnya.
Sementara itu, keterlibatan jajaran TNI dalam kegiatan tersebut turut memperkuat semangat gotong royong dan kemanunggalan TNI dengan rakyat. Para prajurit bersama masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan pemuda bahu-membahu membersihkan akses jalan serta bagian dinding benteng.
Kegiatan berlangsung dalam suasana penuh kebersamaan. Tidak hanya membuka kembali kawasan yang selama ini tertutup belukar, gotong royong tersebut juga menjadi ruang bertemunya kembali masyarakat dengan jejak sejarah kampung leluhur mereka.
Kini, Situs Kampung Lama Laompo mulai kembali terlihat. Benteng batu yang sempat tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan menjadi penanda bahwa kawasan tersebut menyimpan warisan sejarah yang layak dirawat dan dikenalkan kepada generasi berikutnya.
Bagi masyarakat Laompo, membersihkan situs itu bukan hanya pekerjaan fisik. Lebih dari itu, menjadi ikhtiar untuk merawat ingatan, menjaga identitas, dan menghidupkan kembali marwah leluhur yang pernah tumbuh di Kampung Lama Laompo.
Laporan : Aan












