Bursakota.co.id, Anambas – Warga Desa Air Bini, Kecamatan Siantan Selatan, Kabupaten Kepulauan Anambas, mengeluhkan buruknya kualitas jaringan telekomunikasi di wilayah mereka.
Hingga kini, sinyal 4G disebut belum dapat digunakan secara optimal, sementara jaringan 2G pun kerap tidak stabil.
Seorang warga yang juga menjadi pelayan publik di desa tersebut mengungkapkan, penggunaan telepon biasa sudah jarang dilakukan. Namun, ketika jaringan internet dibutuhkan untuk mengirim pesan atau dokumen, kendala sinyal menjadi hambatan utama.
“Kalau 2G boleh, tapi 4G belum pernah ada. Katanya sempat ada perkembangan, tapi hanya satu dua hari saja bagus, setelah itu lemah lagi,” ujar Erwin kepada Bursakota.co.id, Jumat (27/02/2026).
Ia menuturkan, kondisi serupa sudah berlangsung sejak beberapa tahun terakhir, bahkan sejak masa bupati sebelumnya hingga saat ini belum ada perubahan signifikan. Meski sempat ada bantuan layanan internet gratis dari pemerintah melalui perangkat satelit, kualitasnya dinilai tidak maksimal.
Warga menyebut layanan tersebut menggunakan perangkat yang menyerupai parabola kecil yang dikenal sebagai layanan dari Bakti atau Telkomsat. Pada awal pemasangan, jaringan sempat berjalan baik. Namun, tak lama kemudian kembali bermasalah.
“Waktu pertama dipasang memang bagus. Tapi untuk kirim pesan WhatsApp saja bisa tertunda berhari-hari. Kirim hari Senin, sampainya bisa hari Kamis,” katanya.
Saat ini, jaringan yang tersedia di Desa Air Bini masih mengandalkan tower bantu dengan ketinggian terbatas. Sinyal disebut hanya dapat diakses di beberapa titik tertentu, seperti di Dusun Genting, namun dengan kualitas yang lemah.
“Tower yang ada sekarang hanya tower kecil. Tingginya beberapa meter saja. Kalau sepuluh orang dorong mungkin bisa tumbang,” keluhnya.
Padahal, secara geografis Desa Air Bini berada satu daratan dengan pusat kabupaten. Ironisnya, meski dekat dengan ibu kota kabupaten, akses jaringan telekomunikasi justru tertinggal.
“Secara letak kita dekat, satu daratan dengan kabupaten. Tapi untuk sinyal seperti desa tertinggal,” tambahnya.
Keterbatasan jaringan internet tidak hanya berdampak pada komunikasi warga, tetapi juga menghambat pelayanan administrasi desa. Pengiriman berkas ke kabupaten kerap terkendala akibat lemahnya sinyal.
Beruntung, terdapat salah satu warga yang memasang jaringan internet pribadi seperti IndiHome sehingga dapat membantu kebutuhan mendesak. Namun, layanan tersebut bersifat terbatas dan tidak menjangkau seluruh masyarakat.
Selain itu, warga berharap adanya pembangunan tower permanen seperti yang berdiri di Batu Tambun. Keberadaan tower dengan jangkauan lebih luas dinilai penting, terutama bagi nelayan yang beraktivitas di laut.
“Kami ini banyak nelayan. Kalau ada tower yang tinggi dan kuat, bisa dipakai sampai ke Mengkait atau pulau Puan Telayan. Jadi mudah berkomunikasi kalau ada apa-apa di laut,” jelasnya.
Dirinya juga meyakini, jika dibangun tower dengan spesifikasi memadai, sebagian wilayah Siantan Timur turut merasakan manfaatnya.
Ironisnya, Desa Air Bini yang telah dinobatkan sebagai desa wisata justru masih minim akses jaringan telekomunikasi. Masyarakat berharap pemerintah daerah maupun pihak terkait dapat memberikan perhatian serius agar pemerataan infrastruktur digital benar-benar terwujud.
“Harapan itu tetap ada. Minimal ada satu tower yang benar-benar layak. Supaya kami tidak lagi jauh dari sinyal, meski dekat dengan kabupaten,” tutupnya.(BK/Jun).













