Jejak Wartawan “Pejuang” Pembentukan Provinsi Kepri yang Nyaris Terlupakan

0
8

Oleh : Ady Indra Pawennari
Ketua Umum Komunitas Jurnalis Kepri

Siang itu, Selasa 21 April 2026 sekitar pukul 13.00 WIB, sebuah pesan WhatsApp masuk dari nomor Sekretaris Badan Pekerja Pembentukan Provinsi Kepulauan Riau (BP3KR), Sudirman Almoen. Isi pesannya cukup mengejutkan: undangan wawancara untuk penulisan buku sejarah pembentukan Provinsi Kepulauan Riau, dengan saya disebut sebagai salah satu “pejuang” pembentukan Provinsi Kepri.

Saya sempat terdiam beberapa menit. Mata saya berkali-kali tertuju pada kata “pejuang” yang disematkan di belakang nama saya. Bukan karena merasa tidak pantas, melainkan karena sebutan itu baru muncul setelah 24 tahun berlalu. Ada rasa haru, sekaligus pertanyaan yang sulit dijelaskan.

Tak lama kemudian, saya langsung menghubungi Sigit Rachmat, rekan seperjuangan di lapangan pada masa perjuangan pembentukan Kepri, meski ia adalah yunior saya di dunia jurnalistik. Saat itu, Sigit berkarier di Harian Sijori Pos, sementara saya bekerja di Harian Sijori Mandiri, Suara Kita, Suara Riau, hingga akhirnya di bintanpos.com.

Ternyata, Sigit juga menerima undangan serupa. Disusul Amril, yunior saya di Sijori Mandiri, yang mengabarkan hal sama. Senior saya, Ridarman Bay — yang pernah di Harian Sijori Pos dan menjadi redaktur saya di Harian Suara Kita dan Suara Riau — juga mendapat undangan tersebut.

Sayangnya, saya tidak dapat menghadiri acara itu. Menjelang kegiatan dimulai, saya mendadak harus menghadiri pertemuan bisnis dengan investor asal China dan Singapura di Batam. Ketidakhadiran itu sebelumnya sudah saya sampaikan langsung kepada Bang Sudirman Almoen.

Namun, dari undangan itu, saya kembali merenungkan soal sebutan “pejuang” tadi. Jika boleh mengusulkan, ada dua nama wartawan lain yang menurut saya lebih layak disebut sebagai pejuang pembentukan Provinsi Kepulauan Riau. Mereka adalah Ahmad S Udi dari Mandiri Online dan Surya Makmur Nasution dari Harian Kompas.

Pada Musyawarah Besar (Mubes) Rakyat Kepri di Hotel Royal Tanjungpinang, 15 Mei 1999, Ahmad S Udi memiliki peran yang cukup besar dalam menyuarakan perjuangan masyarakat Kepri melalui pemberitaan.

Hari itu, saya menjadi saksi bagaimana Ahmad S Udi menulis berita-beritanya di rumah saya di Jalan Sumatera Nomor 5, Tanjungpinang. Dalam sehari, ada delapan berita tentang Mubes Rakyat Kepri yang tayang di Mandiri Online, media siber berbasis Jakarta yang kala itu sudah mulai dikenal luas.

Berita-berita tersebut menjadi perhatian banyak pihak. Maklum, pada masa itu belum ada media online di Kepri. Media cetak yang terbit lokal dan bisa dibaca masyarakat keesokan harinya hanya Sijori Pos.

Selain Ahmad S Udi, nama Surya Makmur Nasution juga layak dikenang. Wartawan Harian Kompas itu dikenal konsisten menulis dinamika perjuangan pembentukan Provinsi Kepri di media nasional.

Saya mengetahui hal itu karena hampir setiap kegiatan perjuangan pembentukan Kepri di Tanjungpinang, proses produksi berita media nasional banyak dilakukan di kantor saya, bintanpos.com.

Saat itu, selain Sijori Pos, hanya bintanpos.com yang memiliki kantor media dengan fasilitas cukup representatif, lengkap dengan komputer dan jaringan internet yang dapat digunakan wartawan luar daerah untuk menulis dan mengirim berita ke kantor pusat mereka masing-masing.

Tidak jarang, berita-berita tentang perjuangan pembentukan Kepri dikutip media nasional maupun lokal dari bintanpos.com, yang tercatat sebagai media online pertama di Kepri sejak berdiri pada 20 Agustus 2001.

Pada masa itu, bintanpos.com bisa dikatakan berada di garis depan dalam memberitakan setiap perkembangan perjuangan pembentukan Provinsi Kepulauan Riau.

Di ruang redaksi, saya memimpin langsung media tersebut bersama redaktur pelaksana Dahri Maulana, serta didukung wartawan-wartawan muda penuh semangat seperti Angelia Dhamayanti, Ruziana, Tri Indaryani, Teguh Susanto, Greos Saragih, Coky Iskandar (alm), Jhonson Sihombing, Yudi Santoso, Nosy Arsyita di Batam, Adrizas (alm) di Pekanbaru, dan Erwin Jr (alm) di Jakarta.

Kini, setelah lebih dari dua dekade Kepri berdiri sebagai provinsi, jejak para wartawan yang dulu ikut menyuarakan perjuangan itu perlahan mulai diingat kembali. Meski mungkin tercecer dalam catatan sejarah, mereka pernah berada di garis depan — bukan dengan senjata, melainkan dengan tulisan.

Editor : Papi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini