UMRAH dan Yayasan Jaga Alam Mangkai Perkuat Partisipasi Masyarakat Lindungi Habitat Penyu di Pulau Mangkai

0
14
FOTO : Program Studi Ilmu Kelautan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP), Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) bersama Yayasan Jaga Alam Mangkai memperkuat partisipasi masyarakat dalam perlindungan habitat penyu di Pulau Mangkai, Kawasan Konservasi Kepulauan Anambas, Sabtu (12/09/2026).

Bursakota.co.id, Anambas – Program Studi Ilmu Kelautan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP), Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) bersama Yayasan Jaga Alam Mangkai memperkuat partisipasi masyarakat dalam perlindungan habitat penyu di Pulau Mangkai, Kawasan Konservasi Kepulauan Anambas, Sabtu (12/09/2026).

Kegiatan pemberdayaan masyarakat tersebut merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Pemberdayaan Masyarakat Kepulauan yang memperoleh pendanaan dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UMRAH.

Pelaksanaan kegiatan dipusatkan di Pantai Empung, Pulau Mangkai, yang menjadi salah satu kawasan penting bagi keberadaan dan aktivitas penyu.

Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan keterlibatan masyarakat melalui penguatan kapasitas monitoring penyu, pemanfaatan teknologi digital, serta penyediaan media edukasi di kawasan pantai.

Salah satu kegiatan utama yang dilakukan yakni digitalisasi dan pendampingan pencatatan monitoring penyu. Masyarakat didampingi untuk melakukan pencatatan hasil pengamatan secara lebih sistematis dan terdokumentasi.

Digitalisasi tersebut diharapkan dapat mempermudah pengelolaan data hasil pengamatan sekaligus meningkatkan kualitas dokumentasi untuk mendukung pemantauan kondisi habitat penyu secara berkelanjutan.

Sebagai bagian dari penguatan basis data digital, kegiatan tersebut juga menghasilkan Dashboard Monitoring Penyu Pulau Mangkai melalui kerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Loka Pengelolaan Kelautan Pekanbaru.

Dashboard itu dikembangkan sebagai sistem informasi geospasial dan analitik terpadu untuk mendukung pemantauan serta penyebarluasan data terkait aktivitas penyu di Pulau Mangkai.

Data yang diintegrasikan dalam dashboard meliputi pendaratan penyu, sarang relokasi, masa inkubasi, penetasan telur, pelepasan tukik, program adopsi, hingga riwayat metal tagging penyu.

Sistem tersebut memungkinkan data hasil monitoring disajikan secara terintegrasi dan dipantau secara real-time.

Ketua tim kegiatan, Jelita Rahma Hidayati, mengatakan pemanfaatan teknologi digital menjadi bagian dari upaya memperkuat peran masyarakat dalam kegiatan konservasi penyu.

“Pengembangan sistem monitoring berbasis digital merupakan bagian dari upaya untuk memperkuat peran masyarakat dalam kegiatan konservasi penyu,” ujar Jelita.

Menurutnya, masyarakat memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan konservasi penyu, terutama karena berada paling dekat dengan kawasan habitat.
“Keterlibatan masyarakat merupakan bagian penting dalam memastikan keberlanjutan upaya konservasi penyu di wilayah kepulauan,” katanya.

Ia menjelaskan, masyarakat yang berada di sekitar kawasan habitat memiliki posisi strategis dalam melakukan pemantauan dan mengenali kondisi lingkungan.

“Masyarakat yang berada paling dekat dengan kawasan habitat memiliki posisi strategis dalam melakukan pemantauan, mengenali kondisi lingkungan, serta memberikan respons terhadap berbagai ancaman terhadap habitat penyu,” ujarnya.

Pengembangan dashboard tersebut diharapkan tidak hanya menjadi tempat penyimpanan data monitoring, tetapi juga dapat menjadi sumber informasi dalam mendukung pengambilan keputusan dan perencanaan perlindungan habitat penyu.

Data yang terdokumentasi secara digital dapat dimanfaatkan masyarakat, pengelola kawasan, organisasi konservasi, maupun pihak terkait lainnya sesuai kebutuhan kegiatan konservasi.

Selain digitalisasi monitoring, tim juga membuat dan memasang papan informasi di kawasan Pantai Empung.

Papan tersebut menjadi media edukasi bagi masyarakat dan pengunjung mengenai keberadaan penyu, pentingnya habitat peneluran, serta berbagai upaya yang dapat dilakukan bersama untuk menjaga kawasan pantai.

Sementara itu, Ketua Yayasan Jaga Alam Mangkai, Murwanto, turut berperan dalam penguatan kolaborasi dan pendampingan masyarakat dalam kegiatan monitoring penyu di Pulau Mangkai.

Kolaborasi antara UMRAH dan Yayasan Jaga Alam Mangkai diharapkan dapat memastikan sistem monitoring yang telah dikembangkan terus dimanfaatkan serta dikembangkan sesuai dengan kebutuhan konservasi di lapangan.

Dengan adanya penguatan kapasitas masyarakat, pemanfaatan teknologi digital, dan media edukasi, upaya perlindungan habitat penyu di Pulau Mangkai diharapkan dapat dilakukan secara lebih terarah dan berkelanjutan.(BK/Jun).

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini