Listrik Hanya Menyala 3,5 Jam, Warga Nyamuk Keluhkan Pemadaman Hingga 8 Jam

0
8
FOTO : Masyarakat Desa Nyamuk, Kecamatan Siantan Timur, Kabupaten Kepulauan Anambas, mengeluhkan pemadaman listrik bergilir yang terjadi selama dua hari

Bursakota.co.id, Anambas – Masyarakat Desa Nyamuk, Kecamatan Siantan Timur, Kabupaten Kepulauan Anambas, mengeluhkan pemadaman listrik bergilir yang terjadi selama dua hari terakhir di wilayah kerja Sub ULP PLN Nyamuk, Senin (21/09/2026).

Pemadaman yang dirasakan pelanggan disebut berlangsung cukup lama, bahkan mencapai kurang lebih delapan jam dalam satu periode. Kondisi tersebut membuat masyarakat harus menjalani aktivitas dengan waktu menikmati pasokan listrik yang terbatas.

Warga menyebut, setelah listrik kembali menyala, pasokan listrik hanya dirasakan sekitar tiga setengah jam sebelum kembali mengalami pemadaman.

“Dalam dua hari terakhir kami menghadapi pemadaman listrik bergilir dengan durasi kurang lebih delapan jam. Setelah listrik menyala, pelanggan hanya merasakan aliran listrik sekitar tiga setengah jam sebelum kembali padam,” ujar Jun, warga Desa Nyamuk.

Menurut Jun, kondisi tersebut berdampak langsung terhadap aktivitas masyarakat. Pemadaman tidak hanya mengganggu kebutuhan rumah tangga, tetapi juga aktivitas usaha, pekerjaan, pendidikan serta berbagai kebutuhan lain yang bergantung pada listrik.

“Bahkan ketika listrik padam dalam waktu lama, akses telekomunikasi di wilayah Desa Nyamuk ikut terputus. Kami tidak hanya kehilangan penerangan, tetapi juga kesulitan berkomunikasi dan mengakses internet,” ungkapnya.

Ia menilai kondisi tersebut cukup serius bagi masyarakat di wilayah kepulauan. Sebab, gangguan listrik yang berlangsung lama turut memengaruhi jaringan telekomunikasi yang menjadi salah satu sarana penting bagi masyarakat untuk berkomunikasi dan mendapatkan informasi.

Menurut informasi yang disampaikan warga, dari tiga mesin yang tersedia di wilayah tersebut, saat ini disebut hanya satu mesin yang masih dapat beroperasi, sementara dua mesin lainnya mengalami kerusakan.

“Kondisi mesin di Nyamuk seharusnya menjadi perhatian serius, baik oleh pihak PLN maupun pemerintah daerah. Kalau benar dari tiga mesin hanya satu yang bisa beroperasi, tentu harus ada solusi,” kata Jun.

Ia berharap kondisi kelistrikan di Desa Nyamuk tidak dibiarkan berlarut-larut karena masyarakat juga membutuhkan kepastian terhadap ketersediaan listrik.

“Sampai kapan kami di Siantan Timur, khususnya Nyamuk, harus menghadapi kondisi seperti ini? Seharusnya PLN memberikan solusi dan pemerintah daerah juga memperhatikan kondisi kelistrikan di wilayah kami,” ujarnya.

Jun juga mengatakan, pemadaman bergilir sebenarnya bukan kali pertama dirasakan masyarakat. Sebelum pemadaman dengan durasi hingga sekitar delapan jam tersebut, warga disebut telah mengalami pemadaman bergilir dengan durasi sekitar empat jam.

“Sekarang durasinya meningkat hingga kurang lebih delapan jam. Kami tentu mempertanyakan bagaimana kondisi dan kesiapan sistem kelistrikan di Nyamuk dalam memenuhi kebutuhan pelanggan,” ucapnya.

Ia juga menyoroti kondisi mesin yang menurut informasi warga telah beroperasi dalam beban tinggi dalam beberapa waktu terakhir.

Menurutnya, apabila mesin harus bekerja dalam kondisi beban tinggi secara terus-menerus, hal tersebut perlu menjadi perhatian karena dapat berpengaruh terhadap keandalan pembangkit.

“Saya rasa ini salah penyebap kenapa pemadaman ini semakin panjang, karena itu tadi mesin yang sudah tidak mampu lagi untuk beroperasi namu dipaksa, sehingga rusak dan akhirnya terjadilah gangguan pemadaman yang berlarut-larut seperti ini,” ucapnya.

Dirinya juga menilai persoalan pemadaman listrik tidak lagi sebatas masalah kenyamanan. Durasi pemadaman yang panjang dinilai telah berdampak terhadap berbagai aktivitas masyarakat.

Pelaku usaha, misalnya, harus menyesuaikan aktivitas mereka dengan kondisi listrik. Begitu pula masyarakat yang membutuhkan listrik untuk bekerja, belajar maupun menjalankan berbagai kebutuhan rumah tangga.

Gangguan jaringan telekomunikasi ketika listrik padam juga menjadi persoalan tersendiri. Kondisi tersebut membuat masyarakat kesulitan mengakses internet maupun melakukan komunikasi.

“Kami memahami pemadaman bisa terjadi karena gangguan teknis atau pemeliharaan. Tetapi masyarakat juga membutuhkan kepastian dan informasi yang jelas agar bisa menyesuaikan aktivitas,” ujar Jun.

“Karena itu, saya berharap pemadaman bergilir yang berlangsung saat ini dapat segera diatasi dan tidak terus berulang dengan durasi yang semakin panjang,” Tambahnya.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak Sub ULP PLN Nyamuk maupun PLN dari Kabupaten Kepulauan Anambas belum memberikan keterangan resmi terkait penyebab pemadaman bergilir yang berlangsung hingga kurang lebih delapan jam, kondisi tiga mesin pembangkit, maupun langkah penanganan yang dilakukan untuk memastikan pasokan listrik kembali normal.(BK/Jun).

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini