
Aceh Timur — Longsor yang terjadi di Segmen 2 Jalan Peureulak–Lokop, tepatnya di kawasan Gunung Mancang, Desa Bunin, Kecamatan Serbajadi, Kabupaten Aceh Timur, kembali menjadi ancaman serius bagi pengguna jalan.
Kondisi tersebut dilaporkan terjadi berulang sejak awal September 2026. Material longsor berupa tanah, batu dan batang kayu terus turun dari lereng gunung hingga menutupi badan jalan. Siang hari material dibersihkan, namun malam atau saat hujan kembali terjadi longsor sehingga arus lalu lintas Peureulak–Lokop kerap terganggu.
Ironisnya, pengguna jalan yang berangkat dari Lokop menuju Peureulak, Idi maupun Langsa pada pagi hari terkadang masih dapat melintas dengan kondisi jalan relatif normal. Namun ketika perjalanan pulang, mereka tiba-tiba harus berhadapan dengan material longsor dan terjebak berjam-jam.
Begitu pula kendaraan dari arah Peureulak menuju Lokop. Saat berangkat jalan masih dapat dilalui, tetapi ketika kembali harus antre panjang karena badan jalan tertutup material longsor. Bahkan, sebagian pengguna jalan terpaksa bermalam di lokasi sambil menunggu proses pembersihan.
Kondisi ini semakin mengkhawatirkan karena cuaca di kawasan tersebut tidak menentu. Hujan dengan intensitas tinggi dapat terjadi sewaktu-waktu setelah sebelumnya cuaca terlihat cerah. Situasi tersebut membuat ancaman longsor susulan sulit diprediksi.
Dinas PUPR Aceh sebelumnya telah menempatkan satu unit alat berat jenis excavator mini untuk berjaga di kawasan tersebut. Alat itu diharapkan dapat langsung digunakan setiap kali material longsor menutup badan jalan.
Namun, menurut Forum Masyarakat Peduli Serbajadi (FMPS) Kabupaten Aceh Timur, kondisi alat berat tersebut juga kerap mengalami kendala. Salah satunya terjadi pada Jumat, 2 Oktober 2026, ketika longsor turun sekitar pukul 12.55 WIB dan alat berat tidak dapat beroperasi karena mengalami kebocoran ban.
Akibatnya, pengguna jalan harus menunggu hingga sekitar pukul 21.00 WIB sebelum akses dapat kembali dibersihkan dan dilalui. Kondisi tersebut membuat antrean kendaraan mengular dan menyulitkan masyarakat yang membutuhkan akses cepat.
Bukhari Muslim, MH, dari Forum Masyarakat Peduli Serbajadi (FMPS) Kabupaten Aceh Timur, berharap pemerintah melalui Dinas PUPR Aceh dapat segera mencari solusi permanen maupun langkah penanganan yang lebih efektif terhadap titik rawan longsor tersebut.
“Jangan sampai masyarakat terus menjadi korban karena harus menunggu berjam-jam bahkan bermalam di lokasi longsor. Alat berat yang ditempatkan di sana harus dalam kondisi siap digunakan setiap saat,” ujar Bukhari.
Menurutnya, persoalan tersebut bukan hanya menyangkut kelancaran transportasi masyarakat, tetapi juga menyangkut keselamatan dan kemanusiaan. Jalur Peureulak–Lokop merupakan akses penting bagi masyarakat Serbajadi dan wilayah pedalaman Aceh Timur.
Apalagi, kata dia, masyarakat dari Kecamatan Serbajadi kerap harus membawa pasien dari Puskesmas Lokop menuju RSUD Zubir Mahmud Idi maupun rumah sakit di Peureulak. Jika akses terputus akibat longsor dalam waktu lama, kondisi tersebut berpotensi membahayakan pasien yang membutuhkan penanganan medis segera.
“Bayangkan kalau ada pasien gawat darurat yang harus segera dirujuk, tetapi kendaraan terjebak berjam-jam karena longsor. Ini yang harus menjadi perhatian serius pemerintah,” tegasnya.
FMPS meminta Dinas PUPR Aceh tidak hanya mengandalkan pembersihan material setelah longsor terjadi, tetapi juga melakukan penanganan pada titik rawan secara lebih serius, termasuk memastikan kesiapan alat berat dan mencari solusi untuk mengurangi risiko longsor susulan.
Masyarakat berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret agar Jalan Peureulak–Lokop tidak terus menjadi “jebakan” bagi pengguna jalan setiap kali hujan turun.
“Kami berharap Dinas PUPR Aceh segera mencari solusi. Jangan sampai pengguna jalan harus terus antre, terjebak, bahkan bermalam di lokasi longsor,” pungkas Bukhari Muslim. (hasbi)












