Natuna di Ujung Laut, Menanti Diskresi dan Dukungan dari Pusat

0
119
Foto bersama

Natuna – Natuna memiliki laut biru terbentang luas hampir seluruh wilayahnya dikelilingi air. Di situlah letak kekuatan sekaligus tantangan terbesar bagi Natuna, daerah yang 99 persen wilayahnya adalah laut, namun belum sepenuhnya berdaulat dalam mengelolanya.

“Natuna ini unik. Kami diapit oleh banyak negara, tapi masih belum diberi ruang khusus untuk mengelola laut sendiri,” tutur Cen Sui Lan pelan namun tegas, usai menerima kunjungan Ketua dan pengurus PWI Kepri serta PWI Kabupaten Natuna, Rabu (22/10/2025).

Ia menatap penuh semangat membayangkan perjuangan masyarakat Natuna yang hidup di daerah perbatasan, menggantungkan hidup pada hasil tangkapan dan potensi laut, namun sering terkendala oleh kebijakan yang terlalu tersentral.

Sebagai kabupaten yang terletak di ujung utara Indonesia dan berada di tengah Laut Natuna Utara, wilayah ini menjadi beranda strategis NKRI.

Berbatasan langsung dengan Vietnam, Kamboja, Malaysia, dan Brunei Darussalam, Natuna berperan penting tidak hanya untuk pertahanan, tapi juga ekonomi nasional.

Namun, di balik strategisnya posisi itu, masyarakat setempat masih harus berjuang menghadapi keterbatasan. Banyak potensi hasil laut belum bisa dikelola secara optimal karena keterbatasan kewenangan daerah.

“Kalau kami diberikan diskresi khusus dari pemerintah pusat, kami bisa mengelola hasil laut sendiri dengan lebih baik. Ini bukan hanya soal ekonomi, tapi soal keadilan bagi daerah yang menjaga kedaulatan negara di perbatasan,” kata Cen dengan mata berbinar, menggambarkan harapan besar dari sebuah daerah kecil di tengah samudra luas.

Cen Sui Lan mengakui perhatian pemerintah pusat terhadap pembangunan infrastruktur di Natuna sudah luar biasa. Jalan, pelabuhan, hingga sarana publik mulai terlihat membaik.

Namun, menurutnya, pembangunan manusia dan ekonomi masyarakat pesisir juga harus menjadi fokus utama.

“Kalau infrastrukturnya bagus tapi masyarakatnya tidak berdaya, pembangunan itu tidak akan terasa manfaatnya. Kami ingin seimbang antara fisik dan peningkatan SDM,” ujarnya.

Kunjungan jajaran PWI Kepri dan PWI Natuna siang itu terasa seperti suntikan semangat baru bagi pemerintah daerah.

Di tengah keterbatasan anggaran dan tantangan wilayah, Cen menyadari bahwa dukungan media sangat penting untuk membangun kesadaran publik dan menarik perhatian pemerintah pusat.

“Saya tidak bisa bekerja sendiri. Saya butuh dukungan semua pihak Forkopimda, masyarakat, dan juga insan pers. Kami harus bersama-sama memperjuangkan masa depan Natuna,” ungkapnya penuh harap.

Ketua PWI Kepri, Saibansah Dardani, juga menyampaikan dukungan kepada pemerintah daerah.

Ia mengajak para jurnalis untuk terus mengawal pembangunan Natuna dengan semangat positif dan kritis.

“Pers harus menjadi mitra yang konstruktif. Kita sama-sama ingin Natuna maju,” ujarnya.

Harapan Bupati Cen itu kini bergantung pada keputusan pemerintah pusat apakah akan memberikan diskresi dan dukungan nyata bagi pengelolaan laut Natuna, atau membiarkan daerah di ujung peta itu terus menunggu dalam sunyi.

Bagi Cen Sui Lan dan masyarakat Natuna, laut bukan hanya batas wilayah, tapi napas kehidupan dan masa depan. (Bk/Dika)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini