
Natuna – Di tengah keterbatasan fasilitas dan kondisi alam yang kurang bersahabat, PDAM Tirta Nusa Kabupaten Natuna terus berupaya memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
Penurunan debit air akibat musim kemarau menjadi tantangan utama. Meski demikian, para petugas di lapangan tetap bekerja maksimal untuk memastikan distribusi air bersih tetap berjalan.
Di sejumlah titik sumber air, kondisi infrastruktur masih sangat sederhana. Perbaikan kerap dilakukan secara manual dengan peralatan terbatas, bahkan di lokasi yang sulit dijangkau. Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat petugas dalam menjaga pasokan air bagi pelanggan.
Direktur PDAM Tirta Nusa Natuna, Zaharuddin, mengatakan pihaknya terus berikhtiar mencari sumber air alternatif sekaligus melakukan perbaikan pada titik-titik yang mengalami gangguan.
“Kami bekerja dengan fasilitas yang ada, namun tetap berusaha semaksimal mungkin agar pelayanan kepada masyarakat tidak terhenti,” ujarnya, Minggu (03/05/2026).
Menurutnya, tantangan tidak hanya berasal dari keterbatasan sarana, tetapi juga faktor alam yang menyebabkan debit air di sejumlah sumber menurun drastis.
Untuk menyiasati kondisi tersebut, PDAM mengoptimalkan sistem distribusi melalui perbaikan jaringan serta pengaturan aliran air secara bergiliran, sehingga seluruh pelanggan tetap dapat merasakan layanan, meskipun dalam durasi terbatas.
Di lapangan, para petugas harus menghadapi medan berat seperti kawasan berbatu, aliran air yang kecil, hingga lingkungan licin dan sulit diakses. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga keberlangsungan distribusi air bersih.
Zaharuddin juga mengapresiasi kerja keras tim teknis yang tetap bekerja tanpa mengenal waktu di tengah berbagai keterbatasan.
“Petugas kami di lapangan bekerja bahkan di lokasi yang cukup ekstrem. Ini bentuk komitmen kami dalam melayani masyarakat,” tambahnya.
Di balik upaya tersebut, kondisi sarana dan prasarana masih memerlukan perhatian serius. Jaringan pipa transmisi di wilayah Kota Ranai, misalnya, sebagian besar telah terpasang sejak sebelum Natuna resmi menjadi kabupaten, bahkan banyak yang dibangun pada rentang tahun 2004–2005. Usia pipa yang cukup tua ini kerap memicu kebocoran dan berdampak pada menurunnya tekanan air ke pelanggan.
Selain itu, infrastruktur pengolahan air juga membutuhkan peremajaan bahkan pada beberapa titik intake masih menggunakan metode sederhana seperti karung pasir sebagai penahan aliran.
Ketergantungan pada sumber air alami yang debitnya menurun saat kemarau turut mempengaruhi kapasitas produksi dan kelancaran distribusi.
Ke depan, PDAM Tirta Nusa berkomitmen melakukan peningkatan layanan secara bertahap, termasuk melalui peremajaan infrastruktur dan peningkatan kapasitas produksi, dengan harapan adanya dukungan dari berbagai pihak.
PDAM juga mengimbau masyarakat untuk menggunakan air secara bijak dan efisien, terutama di tengah kondisi musim kemarau.
Di tengah berbagai keterbatasan, upaya menjaga air tetap mengalir menjadi bukti bahwa pelayanan publik tetap berjalan, meski dalam kondisi yang tidak mudah. (Bk/Dika)












