Rawat Kebersamaan, Warga Kenagarian Tiaka Gelar Lomba Memancing Ikan Larangan

0
114
FOTO : Wakil Ketua DPRD Kota Payakumbuh Hurisna Jamhur membuka lomba mancing, Sabtu (31/1/2026).

Bursakota.co.id, Payakumbuh – Di sepanjang aliran Batang Sikali, warga Kenagarian Tiaka berkumpul bukan semata untuk menyalurkan hobi memancing. Lomba mancing ikan larangan yang digelar masyarakat setempat menjadi ruang perjumpaan, tempat kebersamaan dirawat, sekaligus sarana berbagi terhadap sesama.

Kegiatan tersebut dibuka Wakil Ketua DPRD Kota Payakumbuh Hurisna Jamhur, Sabtu (31/1/2026). Lomba mancing ini dilaksanakan tiga kali, dengan jadwal satu kali dalam sepekan, dan rutin digelar tiga kali dalam setahun. Di balik kesederhanaannya, kegiatan ini menyimpan tujuan yang lebih luas: memperkuat ikatan sosial antar warga Kenagarian Tiaka.

Dalam sambutannya, Husrina Jamhur memandang kegiatan ini sebagai pengingat bahwa kehidupan bersama tumbuh dari perjumpaan yang sederhana, Namun, dijalani dengan niat yang tulus.

“Kebersamaan sering kali tidak lahir dari peristiwa besar. Ia tumbuh pelan dari ruang-ruang kecil, ketika warga mau berhenti sejenak, saling menyapa, dan menyadari bahwa mereka berbagi tempat hidup yang sama,” kata Husrina.

Pada kesempatan tersebut, Hurisna Jamhur menekankan bahwa makna ikan larangan melampaui sekadar aturan adat. “Ikan larangan mengajarkan kita untuk menahan diri. Ada masa ketika alam dijaga, tidak diambil, agar pada waktunya ia bisa memberi manfaat bagi semua. Di situ ada nilai kesabaran, keadilan, dan rasa tanggung jawab bersama,” tutur Hurisna.

Atas dihelatnya lomba mancing ini, Husrina menyebut ketika masyarakat masih memiliki ruang untuk berkumpul dan berbagi tujuan, di situlah kekuatan sosial perlahan dibangun.

“Modal sosial yang paling berharga bukan semata pada apa yang kita miliki, melainkan pada kesediaan untuk saling menjaga dan memikirkan masa depan bersama,” sebutnya.

Hurisna menambahkan, kebersamaan yang dirawat secara konsisten akan membentuk kepercayaan sosial yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat.

“Kepercayaan tidak dibangun dalam satu hari. Ia lahir dari kebiasaan saling hadir, dari kesediaan untuk berbagi peran dan tanggung jawab, sekecil apa pun itu,” imbuhnya.

Menurutnya, kegiatan yang berpijak pada alam dan kehidupan sehari-hari warga juga mengajarkan cara memandang pembangunan secara lebih utuh.

“Pembangunan sejatinya bukan hanya tentang infrastruktur, tetapi tentang bagaimana manusia merasa terhubung dengan sesama, dengan lingkungannya, dan dengan nilai-nilai yang mereka yakini,” ujar Husrina.

Sementara itu, Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Tiaka Sepriyendi, mengatakan setiap peserta lomba dikenakan biaya pendaftaran. Dana yang terkumpul dimanfaatkan untuk mendukung renovasi Masjid Muhsinin yang berada di depan Kantor Lurah Tiaka, sekaligus untuk santunan bagi anak yatim piatu di Kenagarian Tiaka.

Selain berdimensi sosial dan keagamaan, lomba mancing ini juga menjadi bagian dari upaya warga menjaga dan menghidupkan kembali potensi alam Batang Sikali. Di sepanjang aliran sungai tersebut sebelumnya telah ditanam tanaman produktif yang kelak hasilnya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.

Upaya merawat alam dilakukan dengan cara yang sederhana, Namun, berkelanjutan. Setiap kali lomba usai, bibit ikan kembali ditebarkan ke Batang Sikali. Sungai tidak hanya menjadi tempat mencari ikan, tetapi juga ruang hidup yang dirawat bersama.

Dari Batang Sikali, warga Tiaka merajut kebersamaan dengan cara mereka sendiri—pelan, bersahaja, dan berakar pada kesadaran bahwa kehidupan bersama hanya dapat tumbuh jika dirawat secara kolektif. (Warman)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini