Matinya Kader di Tubuh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kota Baubau: Sebuah Refleksi Kritis

0
48

Oleh La Ali : Ketua Bidang Kader Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kota Baubau

Bursakota.co.id, Buton  – Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) lahir sebagai gerakan mahasiswa yang mengemban tiga kompetensi dasar, yaitu religiusitas, intelektualitas, dan humanitas. Namun, di tengah dinamika organisasi saat ini, muncul pertanyaan besar yang patut direnungkan bersama: apakah semangat kaderisasi IMM masih hidup, atau justru sedang mengalami kemunduran yang mengkhawatirkan? (20/6/2026)

Fenomena yang sering terlihat adalah menurunnya partisipasi kader dalam berbagai agenda organisasi, minimnya budaya diskusi dan kajian ilmiah, serta berkurangnya kepedulian terhadap persoalan umat, bangsa, dan Persyarikatan Muhammadiyah. Tidak sedikit kader yang hanya hadir ketika ada kegiatan seremonial, namun absen ketika organisasi membutuhkan gagasan, tenaga, dan komitmen perjuangan.

Matinya kader bukan berarti hilangnya identitas keanggotaan secara administratif. Matinya kader adalah ketika nilai-nilai perjuangan mulai ditinggalkan, ketika idealisme digantikan oleh kepentingan pribadi, dan ketika keberanian menyuarakan kebenaran mulai terkubur oleh rasa nyaman dan apatisme. Kader yang hidup akan selalu peka terhadap persoalan di sekitarnya, sedangkan kader yang mati akan memilih diam meskipun melihat ketidakadilan terjadi di depan mata.

Di Kota Baubau, IMM memiliki sejarah panjang dalam melahirkan kader-kader yang kritis, progresif, dan berani memperjuangkan kepentingan masyarakat. Oleh karena itu, kondisi menurunnya semangat kaderisasi harus menjadi alarm bagi seluruh pimpinan dan kader IMM. Organisasi tidak boleh hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi harus menjadi ruang pembentukan karakter, intelektual, dan kepemimpinan.

Kebangkitan kembali semangat kaderisasi harus dimulai dari penguatan budaya literasi, kajian, advokasi, dan gerakan sosial. Setiap kader harus menyadari bahwa IMM bukan sekadar organisasi mahasiswa, melainkan wadah perjuangan yang memiliki tanggung jawab moral terhadap umat dan bangsa.

Sudah saatnya IMM Kota Baubau melakukan evaluasi menyeluruh terhadap arah gerak organisasi. Kader yang hidup bukanlah kader yang hanya bangga mengenakan atribut organisasi, melainkan kader yang mampu menghadirkan gagasan, karya, dan pengabdian nyata bagi masyarakat.

Karena sesungguhnya, ancaman terbesar bagi IMM bukanlah kritik dari luar, melainkan ketika semangat perjuangan mati di dalam diri kadernya sendiri. Ketika kader kehilangan idealisme, kehilangan keberanian, dan kehilangan kepedulian, maka pada saat itulah organisasi perlahan kehilangan ruh perjuangannya.

“Kader yang hidup adalah kader yang berpikir, bergerak, dan berjuang. Ketika ketiganya berhenti, maka yang tersisa hanyalah nama tanpa makna.”

Mari bersama-sama menjawab tantangan kader.

Laporan : La Ode

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini