Wakili Sultra di Tingkat Nasional, Guru PKBM Mainawa Kreativ Buktikan Mampu Bersaing dengan Penulis Se-Indonesia

0
15
FOTO : Guru PKBM Inklusi Mainawa Kreativa, Suhardiyanto atau akrab di sapah Kak Anto, berhasil lolos sebagai penulis buku anak dalam Sayembara Bahan Bacaan Literasi yang diselenggarakan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia.(29/7/2026)

Bursakota.co.id, Baubau – Kabar membanggakan datang dari dunia literasi Sulawesi Tenggara. Guru PKBM Inklusi Mainawa Kreativa, Suhardiyanto atau akrab di sapah Kak Anto, berhasil lolos sebagai penulis buku anak dalam Sayembara Bahan Bacaan Literasi yang diselenggarakan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia.(29/7/2026)

Hasil sayembara tersebut diumumkan pada 10 Juli 2026. Dari ratusan naskah yang masuk dari berbagai daerah di Indonesia, Suhardiyanto menjadi satu-satunya penulis asal Sulawesi Tenggara yang berhasil lolos dan karyanya ditetapkan untuk diterbitkan sebagai bahan bacaan literasi anak.

Prestasi ini menjadi bukti bahwa penulis dari daerah juga mampu bersaing di tingkat nasional. Di tengah keterbatasan akses dan minimnya ruang publikasi dibanding kota-kota besar, karya yang lahir dari Baubau mampu menarik perhatian tim penilai nasional dan dinilai layak menjadi bahan bacaan bagi anak-anak Indonesia.

Suhardiyanto mengatakan, keikutsertaannya dalam sayembara tersebut dilandasi keinginan untuk memperkenalkan budaya Buton kepada generasi muda melalui karya sastra anak.

“Buku yang saya tulis berjudul Naira dan Laut yang Terluka. Cerita ini mengisahkan perjuangan seorang anak perempuan yang berusaha menjalankan pesan ayahnya untuk menjaga laut di pesisir Pulau Buton,” ujarnya.

Menurutnya, cerita tersebut tidak hanya mengangkat tema lingkungan, tetapi juga memperkenalkan berbagai tradisi dan kearifan lokal masyarakat Kepulauan Buton yang selama ini hidup dan diwariskan secara turun-temurun.

Dalam buku itu, pembaca akan diajak mengenal tradisi menangkap ikan Pindokoa, kawasan konservasi laut berbasis adat Kaombo, aktivitas meti-meti saat air laut surut, hingga kuliner khas Buton seperti kasoami dan parende.

“Kekayaan budaya Buton saya kemas dalam bentuk chapter book jenjang C agar anak-anak tertarik membaca sekaligus mengenal budaya daerah. Saya ingin budaya yang tumbuh di kampung-kampung pesisir Buton juga bisa dikenal oleh anak-anak di berbagai daerah di Indonesia,” katanya.

Ia berharap buku tersebut dapat menjadi jembatan untuk memperkenalkan kekayaan budaya Sulawesi Tenggara sekaligus menumbuhkan kepedulian anak-anak terhadap lingkungan laut.

Keberhasilan tersebut mendapat apresiasi dari Kepala PKBM Inklusi Mainawa Kreativa, Rismayani. Menurutnya, capaian Suhardiyanto tidak hanya menjadi kebanggaan lembaga, tetapi juga kebanggaan masyarakat Baubau dan Sulawesi Tenggara.

“Prestasi ini sangat membanggakan. Di saat banyak orang beranggapan bahwa penulis dari daerah sulit bersaing, Pak Suhardiyanto membuktikan bahwa karya yang lahir dari Baubau mampu mendapat pengakuan di tingkat nasional,” ujarnya.

Ia menilai keberhasilan tersebut dapat menjadi motivasi bagi pegiat literasi, guru, mahasiswa, dan masyarakat Sulawesi Tenggara untuk terus berkarya dan percaya diri mengirimkan karya ke berbagai ajang nasional.

Menurut Rismayani, karya-karya yang lahir dari daerah memiliki kekuatan tersendiri karena memuat cerita, pengalaman, dan budaya yang belum banyak dikenal masyarakat luas.

Laporan : Aan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini