
Natuna — Tiga hari berada di Pulau Serasan dan Serasan Timur dalam rangka kegiatan reses, Anggota DPRD Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), H. Mustamin Bakri, tidak hanya mendengar keluhan masyarakat. Ia juga merasakan langsung sejumlah persoalan yang dihadapi warga di wilayah kepulauan tersebut.
Salah satu persoalan yang paling mencolok adalah kondisi kelistrikan. Selama berada di Serasan, Mustamin turut merasakan pemadaman listrik bergilir yang terjadi akibat kerusakan peralatan pembangkit.
Kondisi tersebut dinilai mulai mengganggu aktivitas masyarakat dan berpotensi berdampak terhadap pelayanan publik.
“Selama tiga hari kita berada di Serasan, kita juga merasakan langsung persoalan listrik yang dialami masyarakat. Saat ini akibat adanya kerusakan alat, terjadi pemadaman bergilir. Kondisi seperti ini harus segera mendapatkan perhatian dan penanganan cepat,” ujar Mustamin kepada media, Rabu (17/8/2026).
Listrik Bukan Sekadar Penerangan
Bagi masyarakat di wilayah kepulauan, listrik bukan sekadar kebutuhan penerangan. Pasokan listrik yang stabil menjadi bagian penting dalam mendukung pelayanan kesehatan, pendidikan, pemerintahan hingga aktivitas ekonomi masyarakat.
Karena itu, Mustamin meminta kerusakan pembangkit yang menyebabkan pemadaman segera mendapatkan penanganan agar kondisi tersebut tidak berlarut-larut.
“Jangan sampai kondisi listrik ini mengganggu aktivitas masyarakat dan pelayanan pemerintah. Kita berharap ada langkah cepat untuk memperbaiki kerusakan sehingga pasokan listrik dapat kembali normal,” katanya.
Perhatian Mustamin juga tertuju ke Batu Berian. Dari aspirasi yang diterimanya, masyarakat di wilayah tersebut masih menghadapi persoalan pasokan listrik yang belum tersedia selama 24 jam.
Menurutnya, kondisi itu perlu menjadi perhatian karena sejumlah pelayanan dasar masyarakat sangat bergantung pada ketersediaan listrik yang memadai.
“Untuk Batu Berian, masyarakat juga menyampaikan bahwa listrik belum menyala 24 jam. Ini menjadi perhatian kita karena pelayanan kesehatan, pemerintahan dan pendidikan membutuhkan dukungan listrik yang memadai,” jelasnya.
Dari Listrik Bergeser ke Pelabuhan
Reses di Serasan juga membuka persoalan lain yang tak kalah penting, yakni konektivitas antarpulau.
Salah satu aspirasi yang mencuat adalah kebutuhan pembangunan pelabuhan Ro-Ro (roll-on/roll-off) di Serasan. Infrastruktur tersebut dinilai dapat memperlancar mobilitas masyarakat sekaligus distribusi barang dan kendaraan dari maupun menuju Serasan.
Mustamin melihat kebutuhan serupa juga muncul di wilayah Midai dan Subi.
“Pelabuhan Ro-Ro di Serasan menjadi salah satu kebutuhan yang disampaikan masyarakat. Kita juga melihat kebutuhan yang sama untuk wilayah Midai dan Subi. Ini berkaitan dengan bagaimana konektivitas antarpulau bisa semakin baik,” ujarnya.
Bagi Natuna yang terdiri atas gugusan pulau, konektivitas laut menjadi urat nadi kehidupan masyarakat. Transportasi laut tidak hanya menghubungkan satu wilayah dengan wilayah lainnya, tetapi juga menentukan kelancaran distribusi kebutuhan pokok, mobilitas warga dan aktivitas ekonomi.
Merasakan Sendiri Arti Transportasi Laut
Pandangan tersebut semakin kuat setelah Mustamin mengakhiri rangkaian resesnya di Serasan dan Serasan Timur dengan kembali menuju Natuna menggunakan kapal perintis.
Perjalanan laut tersebut memberikan pengalaman langsung mengenai pentingnya transportasi bagi masyarakat yang tinggal di pulau-pulau terluar.
“Ketika kita menggunakan kapal untuk kembali dari Serasan, kita semakin merasakan bahwa transportasi laut ini sangat penting bagi masyarakat Natuna. Karena itu, konektivitas laut harus terus diperkuat,” katanya.
Di sela rangkaian reses, Mustamin juga menghadiri peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia yang dilaksanakan di kawasan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Serasan pada 17 Agustus 2026.
Kehadiran di wilayah perbatasan tersebut sekaligus menjadi bagian dari perjalanan resesnya dalam melihat secara langsung kondisi masyarakat di salah satu kawasan terdepan Indonesia.
Aspirasi Dibawa ke Tingkat Provinsi
Bagi Mustamin, reses bukan sekadar agenda mendatangi masyarakat dan mencatat usulan. Persoalan yang ditemukan di lapangan harus diteruskan melalui mekanisme pemerintahan dan diperjuangkan sesuai kewenangan yang dimiliki DPRD Kepri.
Ia memastikan berbagai aspirasi yang dihimpun selama berada di Serasan dan Serasan Timur akan menjadi bahan dalam pembahasan pembangunan di tingkat provinsi.
Terutama menyangkut kebutuhan dasar seperti listrik dan konektivitas transportasi yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat.
“Harapan kita persoalan yang dirasakan masyarakat ini tidak hanya didengar, tetapi ada tindak lanjut dan penanganan. Untuk listrik, kita berharap perbaikannya bisa dilakukan secepatnya agar tidak mengganggu pelayanan dan aktivitas masyarakat. Sementara untuk konektivitas, kebutuhan infrastruktur seperti pelabuhan Ro-Ro juga akan kita dorong sesuai kewenangan yang ada,” pungkasnya.
Tiga hari di Serasan akhirnya bukan hanya menjadi perjalanan menyerap aspirasi. Dari pemadaman listrik hingga perjalanan menggunakan kapal perintis, Mustamin melihat sendiri bahwa tantangan pembangunan di wilayah kepulauan membutuhkan perhatian dan kebijakan yang benar-benar berpijak pada kondisi masyarakat.
Bagi warga Serasan, harapannya sederhana: listrik yang menyala lebih stabil dan akses transportasi yang semakin mudah. Sementara bagi wakil rakyat, pekerjaan berikutnya adalah membawa suara itu dari pulau terluar menuju meja pembahasan pembangunan di tingkat Provinsi Kepri.
Editor : Papi












