Gerakan Massal tanam karang HUT Ke-27 Natuna Bangun Ekonomi Biru Berbasis Konservasi

0
28
FOTO : Memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-27 Kabupaten Natuna, komunitas selam bersama warga melaksanakan aksi penanaman terumbu karang massal di Pulau Senua, Bunguran Timur, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, Sabtu (10/10/2026).

Bursakota.co.id, Natuna – Memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-27 Kabupaten Natuna, komunitas selam bersama warga melaksanakan aksi penanaman terumbu karang massal di Pulau Senua, Bunguran Timur, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, Sabtu (10/10/2026).

Kegiatan yang mengusung tema “Arif Melangkah Berjaya Tuah, Teruskan Pembangunan, Perkuat Kebersamaan, Budaya Terjaga Natuna Berjaya” ini diinisiasi oleh Lembaga Pengelola Sumber Daya Pesisir (LPSDP) Natuna, Natuna Dive Centre (NDC), Natuna Freediving Club (NFC), dan Badan Pengelola Geopark Nasional (BPGN) Natuna.

Aksi ini didukung penuh Pemerintah Kabupaten Natuna serta para adopter (donatur) individu dan lembaga yang mengadopsi fragmen karang.

Ketua LPSDP Natuna, Cherman, menyebutkan target penanaman sebanyak 300 fragmen karang, saat ini terealisasi sebanyak 239 fragmen yang berarti melibatkan 239 adopter.

“Artinya gerakan kali ini melibatkan dua ratus lebih orang baik terlibat secara langsung maupun  sebagai adopster dalam kegiatan hari ini. Setiap fragmen yang diadopsi adalah komitmen personal untuk menjaga laut Natuna, karena itu kami ucapkan terima kasih atas partisipasinya,” kata Cherman.

Sementara untuk kegiatan penanaman terumbu karangnya melibatkan 23 orang penyelam dari komunitas serta relawan dan didukung oleh Natuna Dive Centre, Natuna Dive Resort serta penyelam dari Komunitas Freediving Club.

Mengapa Pulau Senua?

Pulau Senua dipilih bukan sekadar lokasi seremonial. Pulau seluas 15 hektar yang berada pada koordinat 4°0’48” LU – 108°25’4″ BT ini adalah salah satu dari Geosite Geopark Nasional Natuna yang ditetapkan sejak 30 November 2018. Delapan geosite lainnya adalah Gunung Ranai, Batu Kasah, Pulau Akar, Pulau Setanau, Senubing, Tanjung Datuk, dan Gua Bamak.

Secara geografis, Natuna terdiri dari 154 pulau dengan hanya 27 pulau berpenghuni, luas daratan 2.001,30 km² dan lautan 262.197,07 km². Populasi per akhir 2025 tercatat 84.911 jiwa.

Sebagai kabupaten terdepan yang berbatasan langsung dengan Vietnam, Kamboja, dan Malaysia Timur, Natuna berada di jalur pelayaran internasional dan memiliki cadangan minyak 1,4 miliar barel.

Berdasarkan kajian IPB University, terumbu karang Pulau Senua memiliki tutupan yang bervariasi dari kategori rusak hingga baik, didominasi karang non-acropora. Di perairannya teridentifikasi 1.133 ekor ikan karang dari 75 spesies dan 20 famili, dengan daya dukung wisata selam seluas 26,97 hektar.

“Pulau Senua adalah geosite yang wajib dikelola secara konservatif, berkelanjutan, dan berdampak ekonomi. Ekosistem ekonomi berkelanjutan harus berbasis konservasi dan dikelola oleh pengelola yang berjiwa konservatif,” tegas Cherman.

Dari Seremoni Menjadi Pusat Ekonomi Maritim Baru

Panitia menegaskan, pembangunan taman karang (coral garden) ini bukan sekadar seremoni HUT.

Gerakan massal ini dirancang sebagai landasan penyusunan rencana kerja pengelolaan Geosite Pulau Senua dan bertujuan menjadikan Pulau Senua sebagai pusat ekonomi baru bidang kemaritiman berbasis konservasi.

Taman karang ini diproyeksikan memiliki 14 manfaat strategis:

1. Ekologi: Memperbaiki terumbu karang yang rusak, menjadi benteng pelindung bagi terumbu yang masih sehat dari aktivitas tidak ramah lingkungan, menjadi benteng ekosistem penyu, mencegah abrasi pantai, menjadi lumbung ikan, tempat pemijahan dan pembesaran ikan, serta rumah yang aman bagi biota laut.

2. Ekonomi dan Sosial:* Menjadi daya tarik wisata bahari unggulan Natuna, meningkatkan ekonomi warga melalui konservasi, pendidikan, penelitian, wisata, perikanan, jasa, UMKM dan transportasi, serta membuka lapangan kerja baru.

3. Strategis: Menjadi pusat penelitian dan pendidikan, memiliki nilai sosial-politik dan nilai tambah bagi Natuna, mendukung sektor pertahanan dan keamanan NKRI di Laut Natuna Utara, serta menjadi pendorong utama agar Geopark Natuna lolos menjadi UNESCO Global Geopark (UGGp).

“Jika geosite dikelola dengan baik, perekonomian berbagai sektor akan tumbuh. Sektor pariwisata sangat bergantung pada kegiatan konservasi ini,” pungkasnya.

Puncak peringatan HUT Ke-27 Kabupaten Natuna sendiri akan digelar pada 12 Oktober 2026, 27 tahun sejak kabupaten ini dimekarkan dari Kabupaten Kepulauan Riau berdasarkan UU No. 53 Tahun 1999.

Menginjak usia ke 27, Natuna butuh aksi nyata yang akan berdampak jangka panjang, karena itu butuh kolaborasi banyak pihak.

Aksi ini salah satu upaya untuk membuka ruang bagi siapa saja yang ingin berkontribusi untuk kemajuan Natuna.

“Ini adalah investasi jangka panjang, taman laut yang kita bangun hari ini tidak bisa terasa dampak ekonominya secara luas esok atau lusa, tetapi ini akan terlihat 10 atau 20 tahun kedepan, dengan catatan harus dikelola secara berkelanjutan”, kata Cherman.

Ia juga berharap aksi ini akan berdampak besar bagi lingkungan dan sektor pariwisata melalui program geopark.

Editor : Papi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini