
Bursakota.co.id, Malaysia – Kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah Asia Tenggara turut dirasakan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional Institut Agama Islam (IAI) Natuna yang tengah melaksanakan program pengabdian masyarakat di Johor, Malaysia.
Kondisi tersebut menjadi perhatian mahasiswa karena berdampak terhadap kualitas udara, aktivitas luar ruangan, serta kelancaran pelaksanaan sejumlah program kerja KKN.
Muhammad Raus, salah seorang mahasiswa peserta KKN Internasional IAI Natuna, mengungkapkan keprihatinannya atas kondisi kabut asap yang masih mengganggu aktivitas masyarakat.
Menurutnya, berkurangnya jarak pandang dan menurunnya kualitas udara menjadi tantangan tersendiri bagi mahasiswa yang sedang menjalankan kegiatan pengabdian di luar negeri.
Raus juga menyebutkan bahwa beberapa rekannya mengalami keluhan kesehatan, seperti batuk, pilek, dan gejala menyerupai flu. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kesehatan mahasiswa merupakan faktor penting dalam menunjang kelancaran program KKN.
“Kami berharap kondisi udara segera membaik agar kegiatan KKN dapat berjalan dengan lancar. Kami memahami bahwa penanganan kebakaran hutan dan lahan bukan perkara mudah. Namun, upaya pencegahan dan penanganan yang berkelanjutan sangat diperlukan agar dampaknya tidak terus dirasakan masyarakat,” ujar Raus, Sabtu (17/10/2026).
Kabut Asap Berdampak pada Kesehatan Masyarakat
Persoalan kabut asap di kawasan Asia Tenggara tidak hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga menyangkut kesehatan masyarakat, pendidikan, dan aktivitas sosial lintas negara.
Dalam laporan yang dirujuk dari Reuters pada 15 Oktober 2026, tercatat sebanyak 283.270 kasus gangguan pernapasan yang dikaitkan dengan kebakaran di tujuh provinsi di Indonesia hingga 13 Oktober 2026. Angka tersebut meningkat dibandingkan 113.336 kasus pada 9 September 2026.
Sementara itu, laporan Reuters pada 9 Oktober 2026 juga menyoroti penutupan sementara sejumlah sekolah di Malaysia akibat kondisi kabut asap.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa dampak kebakaran hutan dan lahan dapat meluas hingga melintasi batas negara. Karena itu, penanganannya membutuhkan langkah yang terencana, konsisten, dan melibatkan berbagai pihak.
Dorong Pencegahan dan Penanganan Berkelanjutan
Raus mengapresiasi berbagai upaya yang telah dilakukan pemerintah dalam menangani kebakaran hutan dan lahan. Namun, ia berharap langkah penanganan tersebut terus diperkuat, terutama melalui pencegahan sejak dini dan pengawasan terhadap kawasan yang rawan kebakaran.
Menurutnya, upaya penanggulangan tidak cukup hanya dilakukan ketika kebakaran telah meluas. Pengawasan, penegakan hukum terhadap pelanggaran, pemulihan lahan, serta edukasi kepada masyarakat juga perlu menjadi bagian dari strategi jangka panjang.
“Kami percaya Indonesia memiliki kemampuan untuk terus memperbaiki penanganan karhutla. Harapan kami, langkah yang sudah dilakukan dapat diperkuat dengan pencegahan yang lebih baik dan berkelanjutan. Dengan demikian, masyarakat Indonesia maupun negara tetangga dapat merasakan manfaat dari lingkungan yang lebih sehat,” tambahnya.
Ia juga berharap pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha dapat mengambil peran sesuai tanggung jawab masing-masing dalam mencegah kebakaran hutan dan lahan.
Pengabdian Mahasiswa di Tengah Persoalan Lingkungan
Pengalaman mahasiswa KKN Internasional IAI Natuna di Johor menjadi gambaran bahwa persoalan lingkungan dapat memengaruhi pelaksanaan kegiatan pendidikan dan pengabdian masyarakat, bahkan ketika kegiatan tersebut berlangsung di luar negeri.
Di tengah situasi tersebut, mahasiswa diharapkan tetap mengutamakan keselamatan dan kesehatan dengan mengikuti imbauan otoritas setempat, membatasi aktivitas luar ruangan ketika kualitas udara memburuk, serta menggunakan pelindung pernapasan yang sesuai apabila diperlukan.
Raus berharap persoalan kabut asap dapat menjadi momentum untuk memperkuat evaluasi kebijakan lingkungan dan kerja sama regional dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan.
Menurutnya, upaya tersebut bukan semata-mata untuk mengatasi persoalan yang terjadi saat ini, melainkan juga untuk mencegah dampak serupa terulang pada masa mendatang.
Lingkungan yang sehat merupakan kebutuhan bersama. Melalui kolaborasi lintas sektor, konsistensi kebijakan, dan langkah pencegahan yang berkelanjutan, diharapkan persoalan kabut asap dapat ditangani lebih efektif sehingga kesehatan masyarakat dan aktivitas sosial di kawasan Asia Tenggara dapat terlindungi.
Editor : Papi












