Gasing Menyatukan Generasi, Pemuda Mentalip dan Tanjung Pandak Hidupkan Kembali Permainan Tradisional

0
19
FOTO : Pertandingan persahabatan antara pemuda Dusun Mentalip, Desa Air Putih, dan pemuda Tanjung Pandak Desa Nyamuk, Jumat (30/10/2026).

Bursakota.co.id, Anambas – Di tengah perkembangan zaman dan semakin beragamnya permainan modern, tradisi permainan gasing masih memiliki tempat tersendiri di tengah masyarakat.

Semangat melestarikan warisan budaya itu terlihat dalam pertandingan persahabatan antara pemuda Dusun Mentalip, Desa Air Putih, dan pemuda Tanjung Pandak Desa Nyamuk, Jumat (30/10/2026).

Pertandingan yang berlangsung di sebuah lapangan terbuka tersebut bukan sekadar ajang adu ketangkasan. Lebih dari itu, permainan tradisional gasing menjadi ruang pertemuan antargenerasi sekaligus sarana mempererat silaturahmi dan menjaga kebersamaan masyarakat.

Suasana pertandingan tampak meriah. Sejumlah pemuda bergantian memainkan gasing, sementara warga lainnya menyaksikan dari sekitar arena. Ada yang bertugas sebagai pemain, ada pula yang memperhatikan putaran gasing untuk menentukan ketahanan dan pemenangnya.

Ditengah yang generasi muda tersebut takpak sosok seorang pria usianya yang tidak lagi muda, beliau adalah Ruslan (57) dan diri bertugas untuk menjaga uri atau putaran gasing agar tetap bertahan dan tidak mudah berhenti.

Diri menjelaskan, permainan gasing bukan hanya mengandalkan kekuatan ketika melempar atau memangkak gasing. Dibutuhkan kepandaian, ketepatan, kesabaran, serta kemampuan membaca dan mengimbangi putaran gasing milik lawan.

“Dalam permainan tradisional ini, terdapat sejumlah perlengkapan dan istilah yang memiliki fungsi masing-masing. Mulai dari tali yang dibuat menggunakan kulit pohon meninjau dan dipintal hingga tiga lapis, tiang umban, bagian suduk dan penyalut, hingga pemangkak yang digunakan dalam permainan. Selain itu, dikenal pula istilah penjaga uri, pemukul, apit pemukul, dan selonjo sebagai bagian dari terakhir permainan ini ” jelas Ruslan kepada media ini di sele-sela istrahat sejenak.

“Bahan pembuatan gasing juga menjadi bagian penting dalam tradisi tersebut. Beberapa jenis kayu yang dikenal masyarakat untuk membuat gasing di antaranya kayu mentigi, pelawan, dan asam jawa. Adapun ukuran gasing yang disebut sebagai standar dalam permainan ini sekitar 10 inci,” tambahnya.

Dirinya juga mengakatan yang menarik dari permainan ini, setiap pemain tidak hanya dituntut mampu menghasilkan putaran yang kuat, tetapi juga harus memiliki keterampilan menjaga keseimbangan dan ketahanan putaran gasing.

“Dalam penilaian permainan, ketahanan uri menjadi salah satu unsur penting untuk menentukan siapa yang keluar sebagai pemenang atau disebut sebagai raja,” ucapnya.

Pertandingan persahabatan antara pemuda Dusun Mentalip dan Tanjung Pandak ini menjadi gambaran bahwa permainan tradisional masih mampu menghadirkan kegembiraan, kebersamaan, dan nilai-nilai budaya di tengah masyarakat.

Di balik putaran sebuah gasing, tersimpan pengetahuan tentang keterampilan, kesabaran, dan kearifan lokal yang tidak seharusnya hilang ditelan perkembangan zaman.

Sebab, ketika gasing kembali berputar, bukan hanya sebuah permainan yang dihidupkan, melainkan juga ingatan, kebersamaan, dan warisan budaya yang terus diwariskan kepada generasi berikutnya.(BK/Jun).

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini