Natuna – Di tengah luasnya Laut Natuna Utara, kapal-kapal dari berbagai negara melintas membawa aktivitas perdagangan dunia. Bagi Dinda Aprianti, pemandangan itu bukan sekadar rutinitas yang ia saksikan sejak kecil.
Ia tumbuh di Desa Tanjung, Kecamatan Bunguran Timur Laut, Kabupaten Natuna, sebuah wilayah yang berada di beranda terdepan Indonesia.
Dari tempat itulah Dinda belajar memahami bahwa tinggal di wilayah perbatasan berarti hidup di kawasan yang memiliki posisi strategis bagi bangsa, sekaligus menghadapi berbagai keterbatasan pembangunan.
Sejak kecil, ia menyaksikan bagaimana posisi geografis Natuna yang strategis belum selalu berbanding lurus dengan kesempatan yang diterima masyarakat, terutama dalam bidang pendidikan.
Fasilitas belajar yang terbatas, sumber daya manusia yang belum merata, serta kesempatan pengembangan diri yang tidak sebanyak di daerah perkotaan menjadi bagian dari pengalaman yang membentuk cara pandangnya.
“Saya melihat banyak anak di sekitar saya memiliki potensi besar, tetapi tidak selalu memperoleh ruang, fasilitas, dan dukungan yang memadai untuk berkembang. Dari pengalaman itulah tumbuh keyakinan dalam diri saya bahwa pendidikan bukan sekadar proses akademik untuk memperoleh gelar. Pendidikan adalah alat perjuangan sosial, jalan untuk membuka kesempatan, sekaligus fondasi penting bagi perubahan sebuah masyarakat,” ujar Dinda kepada Bursakota.co.id, Sabtu (19/9/2026).
Tumbuh dari Keterbatasan
Dinda lahir dan dibesarkan dalam keluarga sederhana. Ayahnya bekerja sebagai petani sekaligus kuli bangunan, sedangkan ibunya merupakan ibu rumah tangga.
Kondisi ekonomi keluarga tidak membuatnya tumbuh dengan kemewahan. Namun, dari kedua orang tuanya, Dinda mendapatkan pelajaran tentang daya tahan, kerja keras, tanggung jawab, dan kejujuran.
“Sejak kecil, saya terbiasa melihat ayah bekerja di bawah terik matahari untuk memenuhi kebutuhan keluarga, sementara ibu mengatur kehidupan rumah tangga dengan penuh perhitungan. Dari mereka saya belajar bahwa keberhasilan bukan semata-mata hasil keberuntungan, melainkan buah dari konsistensi dan kemauan untuk terus berusaha,” tuturnya.
Nilai-nilai tersebut kemudian menjadi fondasi bagi Dinda untuk tidak menyerah pada keadaan. Keterbatasan justru mendorongnya untuk terus mencari peluang dan terbuka terhadap evaluasi.
Setelah menyelesaikan pendidikan SMA, keinginan untuk melanjutkan kuliah sempat berhadapan dengan persoalan biaya.
Dinda kemudian mencari jalan. Ia berkonsultasi dengan guru dan berusaha memanfaatkan berbagai kesempatan hingga akhirnya diterima sebagai mahasiswa undangan di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Natuna dengan pembebasan biaya pembangunan.
Namun, perjalanan pendidikan tinggi itu tidak serta-merta mudah. Untuk memenuhi kebutuhan hidup dan biaya pendidikan, ia bekerja sambil kuliah dan tinggal di rumah orang.
Membagi waktu antara pekerjaan, pendidikan, dan kehidupan sehari-hari menjadi pengalaman penting dalam pembentukan karakternya.
“Saya belajar bahwa ketahanan bukan berarti tidak pernah merasa lelah. Ketahanan adalah kemampuan untuk tetap melangkah meskipun sedang lelah,” katanya.
Dari Kampus hingga Ruang Kepemimpinan
Saat menempuh S1 Pendidikan Islam Anak Usia Dini, Dinda tidak ingin masa kuliahnya hanya diisi dengan aktivitas akademik.
Ia aktif dalam organisasi kemahasiswaan dan dipercaya menjadi Wakil Presiden Mahasiswa pada 2021. Setahun kemudian, ia menjalankan tugas sebagai Pelaksana Tugas Presiden Mahasiswa DEMA STAI Natuna.
Pengalaman organisasi mempertemukannya dengan berbagai dinamika. Perbedaan pandangan, keterbatasan anggaran hingga konflik internal dan eksternal menjadi bagian dari proses yang harus dihadapi.
Dinda juga pernah mengambil keputusan yang menuai pro dan kontra. Kritik dan keraguan dari orang lain menjadi pengalaman yang tidak mudah, tetapi justru membentuk cara pandangnya tentang kepemimpinan.
Ia belajar mendengarkan, melihat kritik secara objektif, melakukan refleksi terhadap keputusan, serta memperbaiki kekurangan melalui komunikasi dan dialog.
“Seorang pemimpin tidak akan tumbuh apabila hanya mendengarkan pujian,” ujarnya.
Pengalaman itu membuat Dinda memaknai kepemimpinan bukan sebagai upaya untuk selalu menjadi pihak yang paling benar, melainkan keberanian untuk belajar, mengakui kekurangan, dan terus berkembang.
HMI Memperluas Cara Pandang
Perjalanan Dinda kemudian berlanjut dalam proses kaderisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Ia dipercaya menjadi Ketua Umum HMI Cabang Natuna periode 2024–2025.
Melalui organisasi tersebut, perspektifnya mengenai persoalan daerah semakin luas. Ia melihat bahwa pendidikan tidak berdiri sendiri, melainkan memiliki hubungan erat dengan ekonomi, budaya, kebijakan publik, kualitas sumber daya manusia, serta akses terhadap kesempatan.
Dinda juga terlibat dalam forum diskusi kebangsaan dan advokasi pendidikan.
Dari pengalaman itu, ia semakin memahami bahwa perubahan membutuhkan kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, lembaga pendidikan, organisasi kepemudaan, dan berbagai elemen lainnya.
Pendidikan pun tidak lagi ia pandang hanya sebagai pengalaman pribadi, tetapi sebagai persoalan sosial yang turut menentukan masa depan masyarakat perbatasan.
Menulis Suara dari Perbatasan
Selain organisasi, Dinda juga mengembangkan kapasitasnya melalui literasi.
Ia mengikuti Program Inkubator Literasi Pustaka Nasional dan memperoleh penghargaan nasional. Ia juga menulis buku bertema maritim dan kebangsaan sebagai refleksi atas identitas wilayah tempat ia tumbuh.
Bagi Dinda, menulis bukan sekadar menghasilkan karya. Menulis menjadi cara untuk menyampaikan pengalaman masyarakat perbatasan.
Menurutnya, wilayah perbatasan selama ini kerap dibicarakan dari perspektif geopolitik, keamanan, maupun ekonomi. Padahal, di balik peta dan garis batas terdapat kehidupan manusia: keluarga, anak-anak, guru, nelayan, petani, serta generasi muda dengan berbagai mimpi dan persoalan.
Karena itu, Dinda meyakini narasi mengenai perbatasan juga perlu dibangun oleh orang-orang yang tumbuh dan hidup di dalamnya.
Belajar dari Kegagalan
Perjalanan tersebut tidak selalu berjalan sempurna.
Dinda mengakui pernah terlalu fokus pada aktivitas organisasi sehingga manajemen waktunya kurang optimal. Kondisi itu berdampak pada capaian akademiknya yang sempat tidak maksimal.
Namun, pengalaman tersebut justru menjadi ruang evaluasi.
Ia kemudian menyusun kembali prioritas, memperbaiki strategi belajar, dan membangun pola kerja yang lebih terstruktur.
Baginya, kegagalan bukan akhir dari perjalanan, melainkan kesempatan untuk mengevaluasi diri dan memperbaiki cara melangkah.
Pengalaman itu membuatnya semakin memahami pentingnya keseimbangan antara idealisme, tanggung jawab, dan kapasitas diri.
Memilih Psikologi Pendidikan
Keinginan Dinda melanjutkan studi Magister Psikologi Pendidikan di Universitas Paramadina Jakarta lahir dari pengalaman panjang melihat realitas pendidikan di wilayah perbatasan.
Ia menyadari bahwa menyediakan fasilitas pendidikan saja belum cukup. Anak-anak juga membutuhkan lingkungan belajar yang mendukung perkembangan psikologis, karakter, motivasi, kepercayaan diri, dan kemampuan melihat masa depan.
“Saya ingin memahami pendidikan tidak hanya dari sisi kebijakan dan proses pembelajaran, tetapi juga dari sisi psikologis peserta didik,” katanya.
Dinda ingin mempelajari bagaimana lingkungan keluarga, sekolah, pengalaman sosial, dan kondisi psikologis memengaruhi perkembangan anak.
Bagi anak-anak di wilayah perbatasan, menurutnya, persoalan pendidikan bukan hanya mengenai akses terhadap sekolah. Ada persoalan lain yang tak kalah penting, yakni apakah mereka memiliki keyakinan untuk bermimpi besar, kesempatan berkembang, dan perasaan bahwa masa depan mereka memiliki nilai yang sama dengan anak-anak di pusat perkotaan.
Di titik itulah ia melihat studi Psikologi Pendidikan memiliki keterkaitan dengan perjalanan hidup sekaligus tujuan pengabdiannya.
Ilmu untuk Kembali ke Natuna
Dinda menyadari pendidikan magister akan menuntut konsistensi, kedisiplinan, kemampuan berpikir kritis, dan ketekunan dalam penelitian.
Namun, pengalaman hidup dalam keterbatasan, bekerja sambil kuliah, memimpin organisasi, menghadapi tekanan akademik, menerima kritik, serta menjalankan tanggung jawab sosial menjadi bekal yang menurutnya penting untuk menghadapi jenjang tersebut.
Ia telah memantapkan pilihan melanjutkan pendidikan magister pada Program Studi Psikologi Pendidikan di Universitas Paramadina.
Ilmu dan kemampuan riset yang diperoleh nantinya ingin dibawa kembali ke daerah asalnya.
Bagi Dinda, melanjutkan studi bukan semata-mata untuk memperoleh gelar. Pendidikan merupakan bagian dari perjalanan pengabdian.
Ia ingin kembali ke Natuna bukan hanya sebagai lulusan magister, tetapi sebagai seseorang yang memiliki kapasitas untuk ikut menggerakkan perubahan.
Sebagai putri perbatasan, Dinda memandang identitas tersebut bukan sekadar konsekuensi geografis, melainkan panggilan tanggung jawab.
Ia ingin berkontribusi melalui pendidikan, pengembangan kapasitas anak dan generasi muda, literasi, serta penguatan kesadaran mengenai posisi penting masyarakat perbatasan dalam perjalanan bangsa.
Natuna sebagai Beranda, Bukan Sekadar Perbatasan
Dinda tidak ingin melihat Natuna semata sebagai garis terluar yang jauh dari pusat pembangunan.
Ia ingin melihat Natuna sebagai beranda terdepan Indonesia—wilayah yang juga mencerminkan bagaimana negara memberikan kesempatan kepada masyarakat yang hidup di garis depan.
“Bagi saya, membangun perbatasan berarti memastikan anak-anak yang lahir di sana memiliki kesempatan untuk belajar, berkembang, bermimpi, dan berkontribusi bagi bangsanya,” ujarnya.
Bagi Dinda, kekuatan perbatasan tidak hanya ditentukan oleh pertahanan dan ekonomi, tetapi juga kualitas sumber daya manusianya.
Ia ingin menjadi bagian dari proses tersebut melalui ilmu, karakter, integritas, dan pengabdian nyata.
Sebab, perbatasan baginya bukan sekadar garis yang memisahkan wilayah Indonesia dengan negara lain. Perbatasan adalah ruang hidup masyarakat Indonesia—tempat anak-anak tumbuh, keluarga berjuang, dan generasi muda menunggu kesempatan.
Dinda adalah salah satu dari mereka.
Ia lahir di Natuna, tumbuh di sana, dan pendidikan telah membawanya melampaui batas desa tempat ia dibesarkan. Kini, ia ingin kembali dengan bekal ilmu yang lebih kuat.
Agar kelak, ketika anak-anak Natuna memandang kapal-kapal yang melintas di Laut Natuna Utara, mereka tidak hanya melihat betapa strategisnya wilayah tempat mereka tinggal, tetapi juga percaya bahwa mereka memiliki masa depan besar di tanah sendiri.
Natuna bukan sekadar wilayah strategis secara geopolitik. Natuna adalah rumah. Dan rumah yang berada di beranda terdepan Indonesia layak mendapatkan pendidikan yang bermutu, kesempatan yang adil, dan masa depan yang setara.
Editor : Papi













