Di Balik Senyum Penjual Kue Keliling, Ada Duka Kehilangan Rumah yang Ambruk ke Laut

0
12
FOTO : Nora (27) bersiap memulai rutinitasnya berjualan kue keliling di Desa Nyamuk, Kecamatan Siantan Timur, Kamis (6/8/2026). Dengan sepeda motor yang membawa keranjang berisi aneka kue dan makanan, ibu dua anak itu tetap berjuang mencari nafkah meski baru saja kehilangan rumah yang ambruk ke laut. Dari hasil jualannya yang rata-rata hanya sekitar Rp100 ribu per hari sebelum dipotong biaya operasional, Nora berusaha menghidupi keluarga di tengah himpitan ekonomi dan musibah yang menimpanya.

Bursakota.co.id, Anambas – Matahari baru meninggi ketika Nora (27) mulai menghidupkan sepeda motornya. Sebuah keranjang plastik berwarna kuning terikat di bagian belakang motor, berisi aneka kue dan sarapan yang siap diantarkan dari rumah ke rumah di Desa Nyamuk, Kecamatan Siantan Timur, Kamis (6/8/2026).

Tak banyak yang tahu, senyum yang ia tebarkan kepada setiap pelanggan sedang menyembunyikan luka yang begitu dalam. Baru dua hari lalu, rumah yang selama ini menjadi tempat berlindung keluarganya ambruk ke laut. Kini, ibu dua anak itu tak lagi memiliki tempat untuk pulang seperti sebelumnya.

Setiap pagi, Nora berkeliling menjajakan kue dan sarapan. Siang harinya, ia kembali mengendarai motor yang sama, menawarkan kue dan lauk pauk kepada warga. Rutinitas itu sudah dijalaninya selama kurang lebih empat tahun.

“Kalau tidak jualan, tidak ada pemasukan untuk keluarga,” ucapnya lirih.

Dalam sehari, hasil penjualan kotornya berkisar Rp100 ribu. Nilai itu belum dipotong biaya bensin, kantong plastik, dan kebutuhan operasional lainnya.

Menariknya, kue-kue yang dijual bukan hasil buatannya sendiri, melainkan titipan dari para ibu rumah tangga di Desa Nyamuk yang menggantungkan harapan dari dagangan tersebut.

Nora bukan hanya mencari nafkah untuk keluarganya, tetapi juga menjadi penghubung rezeki bagi ibu-ibu lain di kampungnya.

Namun, dua tahun terakhir menjadi masa yang berat. Daya beli masyarakat menurun sehingga dagangan sering kali tidak habis. Bahkan, tak jarang Nora harus lebih dulu menalangi uang setoran kepada pemilik kue karena sebagian pelanggan belum bisa membayar.

Sebagian besar pembelinya merupakan keluarga nelayan yang harus menunggu suami mereka pulang melaut atau menanti hasil penjualan ikan sebelum memiliki uang untuk membayar.

“Saya maklum. Mereka juga susah. Kadang bayarnya nanti kalau suaminya sudah pulang melaut,” katanya.

Untuk menambah penghasilan, malam hari Nora bekerja di salah satu warung makan di desanya. Upah yang diterimanya pun tidak seberapa, sekitar Rp30 ribu setiap malam. Jika pengunjung sedang ramai, ia bisa membawa pulang Rp50 ribu.

Makan malam yang disediakan pemilik warung sering kali menjadi berkah tersendiri. Sesekali makanan itu dibawanya pulang agar bisa disantap bersama suami dan kedua anaknya.

Sementara itu, sang suami bekerja sebagai nelayan dengan ikut melaut menggunakan perahu milik orang lain. Penghasilannya bergantung sepenuhnya pada hasil tangkapan.

Pada perjalanan melaut terakhir, bagian yang diterimanya hanya sekitar Rp150 ribu. Setelah itu, angin kencang membuatnya sudah hampir tiga minggu tidak bisa turun ke laut.

Artinya, selama berminggu-minggu keluarga kecil itu hanya bergantung pada hasil Nora berjualan dan bekerja di warung makan.

Ironisnya, di tengah perjuangan mempertahankan dapur agar tetap mengepul, musibah datang menghantam. Rumah yang mereka tempati ambruk ke laut, memaksa keluarga itu kehilangan tempat tinggal sekaligus rasa aman yang selama ini mereka miliki.

Meski cobaan datang bertubi-tubi, Nora memilih untuk tetap berdiri. Setiap pagi ia kembali mengikat keranjang dagangannya di atas sepeda motor, menyusuri jalan-jalan kampung, sambil berteriak menawarkan jajakannya, menjual harapan bersama setiap potong kue yang ia bawa.

Bagi Nora, berhenti bukanlah pilihan. Sebab, ada dua anak yang menunggu makan, seorang suami yang sedang berjuang menghadapi musim angin, dan sebuah harapan sederhana yang terus ia genggam agar suatu hari nanti keluarganya bisa kembali memiliki rumah untuk pulang.(BK/Jun).

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini