
Tanjungpinang – Ribuan warga memadati Pelataran Kota Tua Jalan Merdeka, Selasa (17/2/2026), untuk merayakan Malam Penyambutan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili/Tahun Kuda Api 2026.
Kehadiran Ansar Ahmad di tengah masyarakat menjadi simbol kuatnya kebersamaan sekaligus momentum membangun semangat memajukan Provinsi Kepulauan Riau.
Dalam sambutannya, Gubernur Ansar Ahmad mengajak masyarakat menjadikan perayaan Imlek sebagai penguat tekad bersama untuk terus mendorong kemajuan daerah.
“Semoga Imlek ini menjadi momentum bagi kita untuk terus membangun semangat dalam memajukan Kepulauan Riau ke depan agar semakin maju,” ujar Ansar dalam perayaan yang diselenggarakan Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Tanjungpinang-Bintan.
Ansar mengaku bangga melihat keberagaman yang tercermin dalam setiap penampilan malam itu. Baginya, perayaan Imlek bukan hanya milik satu kelompok, tetapi milik seluruh masyarakat Kepri yang hidup dalam harmoni.
“Saya merasa bangga dan bahagia melihat semua yang tampil malam ini sebagai bentuk moderasi dan kebersamaan. Saya lihat yang tampil bukan hanya pemuda Tionghoa, tetapi juga ada wajah Melayu, Jawa, Flores, dan suku lainnya. Ini menandakan bahwa membangun semangat kebersamaan itu sangat penting,” ungkapnya.
Menurut Ansar, keberagaman merupakan kekuatan utama Kepulauan Riau. Dengan masyarakat yang terdiri dari berbagai suku, agama, dan budaya, Kepri mampu menjadi contoh kehidupan yang rukun dan damai.
Ia menyebut, selama tiga tahun berturut-turut, pemerintah pusat menempatkan Kepulauan Riau sebagai salah satu dari lima besar provinsi dengan tingkat moderasi dan toleransi beragama terbaik di Indonesia. Capaian tersebut menjadi modal penting dalam mendukung pembangunan daerah.
Ansar juga memaparkan bahwa dari sekitar 2,18 juta penduduk yang tersebar di 394 pulau berpenghuni, komposisi masyarakat Kepri sangat beragam. Suku Melayu sekitar 29,97 persen, Jawa 22,7 persen, Batak 12,43 persen, Minang 9,71 persen, serta Tionghoa sekitar 7,7 persen, dengan sisanya berasal dari berbagai latar belakang etnis lainnya seperti Sunda dan Bugis.
“Boleh berbeda suku, berbeda agama, berbeda budaya, tetapi kita dipayungi oleh Bhinneka Tunggal Ika. Berbeda-beda namun tetap satu. Inilah kekuatan Kepulauan Riau,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua PSMTI Tanjungpinang-Bintan, Djony Janto, menyampaikan harapan agar Tahun Kuda Api membawa keberuntungan dan kemajuan bagi seluruh masyarakat.
“Semoga semua beruntung di Tahun Kuda Api dan kerukunan senantiasa membawa kemajuan bagi masyarakat serta negara Indonesia,” ujarnya.
Perayaan berlangsung meriah dengan berbagai pertunjukan seni budaya seperti barongsai, wushu, dan naga liong yang memukau masyarakat. Keberagaman etnis yang tampil di atas panggung menjadi simbol nyata persatuan di Bumi Segantang Lada.
Malam penyambutan Imlek pun ditutup dengan pesta kembang api yang menghiasi langit Tanjungpinang, menjadi penanda harapan baru bagi Kepulauan Riau tentang masa depan yang semakin maju, harmonis, dan bersatu dalam keberagaman.
Editor : Papi












