
Natuna – SMKN 1 Bunguran Timur terus memperkuat pengembangan sumber daya manusia (SDM) maritim melalui Program Keahlian Nautika Kapal Penangkap Ikan (NKPI).
Upaya tersebut dilakukan dengan menerapkan kurikulum berbasis standar internasional yang diselaraskan dengan kebutuhan industri perikanan modern.
Melalui pembelajaran yang menggabungkan penguasaan teknologi navigasi, praktik industri, hingga sertifikasi kompetensi, jurusan NKPI diproyeksikan mampu mencetak pelaut perikanan profesional yang siap bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
Kepala SMKN 1 Bunguran Timur, Subbihi, mengatakan profil lulusan yang dibangun saat ini tidak lagi sebatas menjadi nelayan tradisional, melainkan operator kapal penangkap ikan profesional yang mampu mengelola kapal sebagai unit usaha secara efisien, aman, dan sesuai regulasi.
“Profil lulusan yang kita harapkan tidak lagi sekadar menjadi nelayan tradisional, melainkan operator kapal penangkap ikan profesional yang mampu mengelola kapal sebagai unit bisnis yang efisien, aman, dan taat hukum,” ujar Subbihi saat dihubungi, Jumat (10/7/2026).
Menurutnya, perkembangan teknologi dan dinamika industri perikanan global menuntut dunia pendidikan vokasi untuk terus beradaptasi. Karena itu, penyelarasan kurikulum menjadi aspek penting agar pendidikan maritim tetap relevan dengan kebutuhan dunia kerja.
SMKN 1 Bunguran Timur menerapkan Kurikulum Merdeka yang dipadukan dengan standar Standards of Training, Certification and Watchkeeping for Fishing Vessel Personnel (STCW-F). Kurikulum tersebut tidak hanya membekali siswa dengan keterampilan dasar pelayaran dan penangkapan ikan, tetapi juga kemampuan mengoperasikan teknologi navigasi modern serta pemahaman tentang konsep sustainable fisheries atau perikanan berkelanjutan.
Sebagai bagian dari program link and match, sekolah secara rutin melakukan penyelarasan kurikulum bersama perusahaan perikanan dan koperasi mitra. Evaluasi dilakukan secara berkala agar materi pembelajaran selalu mengikuti perkembangan teknologi dan kebutuhan industri.
Selain itu, praktisi dari sektor perikanan turut dilibatkan sebagai guru tamu. Kehadiran mereka diharapkan mampu menjembatani kesenjangan antara teori yang dipelajari di kelas dengan praktik kerja di lapangan.
Dalam proses pembelajaran, siswa dibekali kemampuan mengoperasikan berbagai perangkat navigasi modern seperti fish finder, sonar, GPS plotter, radar, echosounder, hingga autopilot. Penguasaan teknologi tersebut bertujuan meningkatkan efisiensi pelayaran, menghemat konsumsi bahan bakar, serta mengoptimalkan hasil tangkapan ikan.
Kurikulum terbaru juga mengintegrasikan materi mengenai penggunaan alat tangkap ramah lingkungan, pengelolaan hasil tangkapan secara berkelanjutan, administrasi pelayaran, pengisian logbook penangkapan ikan, pemahaman Wilayah Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia (WPP RI), hingga kepatuhan terhadap Code of Conduct for Responsible Fisheries.
Subbihi menjelaskan, pembelajaran di jurusan NKPI dilakukan secara bertahap. Tahap awal dimulai melalui praktik di laboratorium navigasi menggunakan bridge simulator, kemudian dilanjutkan dengan praktik di bengkel perawatan alat tangkap, pengenalan mesin kapal, serta pelatihan keselamatan kerja di laut (safety at sea).
Selanjutnya, siswa mengikuti praktik berlayar bersama kapal nelayan mitra untuk mempelajari bridge watchkeeping, prosedur pemanduan kapal, dan teknik penangkapan ikan secara langsung.
Puncak pembelajaran dilaksanakan melalui Praktik Kerja Lapangan (PKL) selama enam bulan di perusahaan perikanan maupun kapal penangkap ikan. Selama menjalani PKL, siswa diwajibkan menyusun Journal of Training yang divalidasi oleh perusahaan sebagai bukti pencapaian kompetensi.
Menurut Subbihi, keberadaan Program Keahlian NKPI memiliki peran strategis dalam mengubah potensi sumber daya kelautan Natuna menjadi SDM yang kompeten dan berdaya saing tinggi.
“SMKN 1 Bunguran Timur merupakan garda terdepan dalam menyiapkan SDM maritim yang mampu menjawab kebutuhan industri perikanan modern sekaligus mendukung pembangunan sektor kelautan di wilayah perbatasan,” katanya.
Selain memperkuat kurikulum, sekolah juga memfasilitasi peserta didik untuk memperoleh sertifikat kompetensi pelaut, seperti ANT Kapal Penangkap Ikan, yang menjadi salah satu syarat utama bekerja di perusahaan pelayaran maupun industri perikanan berskala nasional dan internasional.
Meski demikian, pengembangan pendidikan vokasi maritim masih menghadapi sejumlah tantangan, di antaranya keterbatasan simulator dan kapal latih, kebutuhan tenaga pendidik bersertifikasi industri, akses kerja sama dengan perusahaan besar akibat kendala geografis wilayah kepulauan, serta perubahan paradigma masyarakat terhadap profesi di sektor maritim.
Subbihi berharap semakin banyak generasi muda Natuna yang melihat sektor maritim sebagai industri modern dengan peluang karier yang luas hingga tingkat internasional.
“Kami akan terus berinovasi untuk meningkatkan kualitas pendidikan vokasi maritim agar mampu mencetak lulusan yang siap kerja, kompeten, dan berdaya saing global,” tutupnya.
Editor : Papi












