Lebih dari 200 Peserta Turun ke Pantai Piwang, Ngael Cancang Jadi Cara Natuna Merawat Tradisi Leluhur

0
21
FOTO : Dewan Pembina KPDN, Muhammad Erimuddin saat melepas peserta ngael Cancang di Pantai Piwang, Ranai

Natuna – Minggu pagi di Pantai Piwang, Kecamatan Bunguran Timur, terasa berbeda. Lebih dari 200 orang berkumpul dengan perlengkapan pancing dan umpan masing-masing. Ada laki-laki, perempuan, hingga anak-anak yang datang bukan sekadar untuk mencari ikan, tetapi juga menikmati kebersamaan dalam sebuah tradisi yang telah lama hidup di tengah masyarakat Natuna.

Mereka mengikuti lomba Ngael Cancang, tradisi memancing sambil berjalan yang digelar Komunitas Pecinta Domino Natuna (KPDN) bersama Persatuan Olahraga Domino Indonesia (PORDI) Kabupaten Natuna, Minggu (1/11/2026).

Di antara riuh suasana pantai dan semangat para peserta, tersimpan pesan yang lebih besar dari sekadar perlombaan: menjaga agar tradisi masyarakat pesisir tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kabupaten Natuna itu diawali dengan senam bersama sekitar pukul 07.00 WIB. Suasana semakin meriah dengan pembagian doorprize sebelum lomba secara resmi dilepas oleh Dewan Pembina KPDN, Muhammad Erimuddin.

Bagi Erimuddin, Ngael Cancang bukan hanya aktivitas memancing yang dikemas menjadi perlombaan. Tradisi ini merupakan bagian dari kehidupan masyarakat di sejumlah kampung di Natuna yang memiliki nilai kebersamaan dan patut dipertahankan.

“Pertama, kegiatan ini untuk menjalin silaturahmi sesama masyarakat. Selain itu, kita juga ingin melestarikan budaya lokal. Tradisi Ngael Cancang ini masih lestari di kampung-kampung kita dan tidak semua daerah memiliki tradisi seperti ini,” ujarnya.

Antusiasme peserta menjadi gambaran bahwa tradisi tersebut masih memiliki tempat di hati masyarakat. Lebih dari 200 orang mendaftar, dengan latar belakang dan usia yang beragam.

Erimuddin mengaku senang melihat keterlibatan perempuan dan anak-anak dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, kehadiran mereka menunjukkan bahwa Ngael Cancang bukan hanya menjadi hobi kalangan tertentu, melainkan dapat dinikmati bersama keluarga.

“Pesertanya bukan hanya bapak-bapak atau laki-laki. Ada juga ibu-ibu, bahkan tadi saya melihat beberapa anak perempuan ikut berpartisipasi. Ini menunjukkan kegiatan seperti ini masih menjadi hobi masyarakat,” katanya.

Di sepanjang kegiatan, setiap peserta bebas menentukan jenis umpan yang digunakan dan diwajibkan membawanya sendiri. Namun, panitia menetapkan ketentuan mengenai jenis ikan yang dapat dihitung dalam perlombaan.

Menariknya, pemenang tidak ditentukan berdasarkan berat atau ukuran ikan. Jumlah tangkapan menjadi ukuran utama penilaian. Beberapa jenis ikan, seperti selayang dan ikan buntal, tidak masuk dalam perhitungan.

“Dalam menentukan juara, ikan tidak ditimbang. Penilaiannya berdasarkan jumlah ikan yang didapat. Jadi, meskipun ikannya besar tetapi jumlahnya sedikit, belum tentu menjadi juara. Sebaliknya, peserta yang mendapatkan ikan lebih banyak sesuai ketentuan bisa berpeluang menang,” jelas Erimuddin.

Aturan tersebut membuat perlombaan memiliki tantangan tersendiri. Peserta tidak hanya mengandalkan keberuntungan mendapatkan ikan besar, tetapi juga ketekunan dan kemampuan memperoleh tangkapan sebanyak mungkin sesuai ketentuan panitia.

Namun, hasil tangkapan bukan satu-satunya hal yang dibawa pulang peserta. Pertemuan, tawa, pengalaman, dan kesempatan menikmati tradisi bersama menjadi bagian penting dari kegiatan tersebut.

Di tengah perubahan zaman, tradisi lokal membutuhkan ruang agar tetap hidup. Salah satunya melalui kegiatan yang melibatkan masyarakat secara langsung, terutama generasi muda. Sebab, budaya tidak cukup hanya dikenang melalui cerita orang tua, tetapi perlu terus dipraktikkan dan diperkenalkan.

Melalui lomba Ngael Cancang, KPDN dan PORDI Natuna berharap tradisi memancing sambil berjalan itu tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial dalam perayaan hari jadi daerah. Lebih dari itu, tradisi tersebut diharapkan terus tumbuh sebagai bagian dari identitas masyarakat pesisir Natuna.

Dari Pantai Piwang, pesan itu mengalir sederhana: merawat budaya bisa dimulai dengan berkumpul, bergembira, dan melakukan kembali kebiasaan yang diwariskan para pendahulu.

Sebab, selama tradisi masih dijalankan dan generasi muda mau mengenalnya, warisan budaya Natuna akan tetap memiliki tempat dalam kehidupan masyarakatnya.

Editor : Papi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini