
NATUNA – Perumda Air Minum Tirta Nusa Natuna menuntaskan program pendampingan penerapan Good Corporate Governance (GCG) dan manajemen risiko yang berlangsung selama tiga bulan, sejak Mei hingga Juli 2026. Program tersebut menjadi tonggak transformasi perusahaan dalam membangun tata kelola yang lebih profesional, transparan, akuntabel, dan berkelanjutan, sekaligus mendukung peningkatan kualitas pelayanan air minum kepada masyarakat.
Direktur Perumda Air Minum Tirta Nusa Natuna, Zaharuddin, mengatakan penerapan GCG merupakan langkah strategis untuk memperkuat fondasi perusahaan menuju sistem pengelolaan yang lebih modern. Menurutnya, selama hampir 19 tahun berdiri, sebagian besar proses administrasi, keuangan, hingga operasional masih dilakukan secara manual sehingga diperlukan pembenahan secara menyeluruh.
“Kami mulai menerapkan sistem digitalisasi sebagai bagian dari implementasi Good Corporate Governance. Dengan sistem yang lebih terintegrasi, pengelolaan perusahaan menjadi lebih efektif, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan,” ujar Zaharuddin, Sabtu (25/7/2026).
Ia menjelaskan, transformasi tersebut tidak hanya berfokus pada pemanfaatan teknologi, tetapi juga pada penguatan tata kelola perusahaan melalui peningkatan kompetensi sumber daya manusia. Selama masa pendampingan, seluruh jajaran manajemen dan pegawai mendapatkan pembinaan serta pelatihan intensif mengenai penerapan GCG dan manajemen risiko agar mampu menjalankan sistem yang telah dibangun secara mandiri dan berkelanjutan.
Konsultan pendamping, Yofi Agustian, mengatakan penerapan GCG dan manajemen risiko bertujuan memastikan seluruh proses bisnis perusahaan berjalan sesuai prinsip-prinsip tata kelola yang baik sehingga mampu menciptakan perusahaan yang sehat dan berdaya saing.
“Tujuan dari GCG dan penerapan manajemen risiko adalah supaya perusahaan berjalan sesuai dengan koridor yang seharusnya. Penerapan GCG harus didasari prinsip transparansi, akuntabilitas, responsibility, independensi, fairness, dan safety,” kata Yofi.
Menurutnya, pendampingan selama tiga bulan difokuskan pada penyempurnaan sistem yang telah diterapkan Perumda Air Minum Tirta Nusa Natuna dalam beberapa tahun terakhir. Hingga akhir masa pendampingan, implementasi GCG dan manajemen risiko di internal perusahaan telah mencapai sekitar 70 hingga 75 persen dan akan terus disempurnakan secara bertahap.
Salah satu fokus utama penyempurnaan adalah transformasi sistem administrasi dan pembukuan dari metode manual menuju sistem yang terintegrasi. Perubahan tersebut diharapkan mampu meningkatkan transparansi, akurasi data, efektivitas kerja, sekaligus mempermudah pengawasan terhadap seluruh aktivitas perusahaan.
“Yang tadinya semua pembukuan dan proses kerja masih manual akan kita migrasikan menjadi sistem yang lebih sistematik agar penerapan GCG dapat berjalan dengan baik,” jelasnya.
Zaharuddin menambahkan, hasil pendampingan menunjukkan peningkatan kapasitas sumber daya manusia di lingkungan Perumda Air Minum Tirta Nusa Natuna. Para pegawai kini dinilai telah memahami dan mampu menerapkan prinsip-prinsip GCG secara mandiri, sementara peran konsultan selanjutnya lebih difokuskan pada fungsi pengawasan dan evaluasi dari jarak jauh.
“Peningkatan kompetensi SDM menjadi salah satu hasil terpenting dari program ini. Kami optimistis seluruh sistem yang telah dibangun dapat dijalankan secara konsisten sehingga budaya kerja yang profesional dan berintegritas semakin mengakar di lingkungan perusahaan,” ujarnya.
Ke depan, Perumda Air Minum Tirta Nusa Natuna akan melanjutkan penyempurnaan implementasi GCG dan manajemen risiko hingga seluruh sistem berjalan optimal.
Tata kelola perusahaan yang semakin baik diharapkan mampu memperkuat kinerja dan kondisi keuangan perusahaan, meningkatkan kepercayaan para pemangku kepentingan, serta menghadirkan pelayanan air minum yang lebih cepat, transparan, dan berkualitas bagi masyarakat Kabupaten Natuna. (Bk/Dika)












