
Bursakota.co.id, Anambas – Keluhan warga terkait gangguan sinyal telekomunikasi di Desa Nyamuk, Kecamatan Siantan Timur, dan Desa Air Bini, Kecamatan Siantan Selatan, Kabupaten Kepulauan Anambas, mendapat tanggapan dari Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Diskominfotik), Sabtu (28/02/2026).
Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Kominfotik) Kabupaten Kepulauan Anambas Abdul Kadir menyampaikan, bahwa pihaknya telah menerima laporan terkait gangguan sinyal yang kerap terjadi di Desa Nyamuk.
Ia mengaku baru memperoleh informasi tersebut pada pagi hari dan langsung meneruskan laporan itu kepada pihak penyedia layanan.
“Informasi sudah kami teruskan dan kami minta dilakukan pemeriksaan ulang untuk memastikan penyebab gangguan, apakah berasal dari listrik atau dari jaringan sinyalnya,” ujarnya, saat dikonfirmasi.
Menurutnya, sumber dukungan sinyal untuk Desa Nyamuk berasal dari Desa Batu Belah. Jika terjadi gangguan listrik di wilayah tersebut, maka sinyal di Nyamuk turut terdampak.
“Kalau listrik di Batu Belah terganggu, otomatis sinyal ke Nyamuk ikut terganggu. Sinyalnya kadang hilang sekitar lima menit, muncul lagi, lalu hilang kembali. Itu yang sering terjadi,” jelasnya.
Dirinya juga telah berkoordinasi dengan pihak Telkomsel selaku operator yang menjadi koordinator layanan di wilayah Siantan Timur. Pemerintah daerah meminta agar dilakukan pengecekan langsung di lapangan guna memastikan sumber persoalan.
Selain Desa Nyamuk, keluhan juga datang dari masyarakat Desa Air Bini di Kecamatan Siantan Selatan. Warga berharap adanya pembangunan menara permanen Telkomsel di wilayah tersebut, menggantikan menara bantuan dari program Bakti yang dinilai kapasitasnya terbatas.
Menanggapi hal itu, Kepala Diskominfotik menegaskan bahwa pemerintah daerah akan terus berkoordinasi dengan Telkomsel untuk memantau wilayah yang masih tergolong blank spot atau memiliki kualitas sinyal lemah.
“Jika memang diperlukan dan sesuai harapan masyarakat, kita akan memohon kepada pihak Telkomsel untuk melakukan peninjauan, bahkan pembangunan menara permanen,” kata Abdul Kadir.
Terkait 17 titik aktivitas yang sebelumnya diusulkan pemerintah daerah, ia menjelaskan bahwa cakupannya hanya untuk mendukung fasilitas terbatas seperti kantor desa dan Puskesmas Pembantu (Pustu). Jangkauan layanan tersebut tidak luas dan belum mampu menjangkau kawasan permukiman yang padat aktivitas.
Di sisi lain, masyarakat juga mengeluhkan layanan internet bantuan pemerintah melalui program Bakti yang dinilai sering mengalami gangguan, terutama saat digunakan secara bersamaan. Namun, menurutnya persoalan tersebut lebih disebabkan oleh keterbatasan kapasitas.
“Bukan gangguan teknis, tetapi kapasitasnya memang kecil. Kalau digunakan banyak orang, tentu menjadi lambat,” ungkapnya.
Seiring dengan kebutuhan layanan digital yang semakin meningkat, Dirinya memastikan akan terus melaporkan keluhan masyarakat kepada pihak penyedia layanan. Kendati kebijakan teknis menjadi kewenangan operator, pemerintah daerah tetap berupaya mendorong peningkatan infrastruktur telekomunikasi.
Terkait penggunaan layanan internet satelit seperti Starlink oleh pihak swasta di beberapa desa, Kadis Kominfotik itu, menyatakan belum mempelajari secara mendalam aspek regulasinya. Namun, keberadaan layanan tersebut dinilai cukup membantu masyarakat, khususnya untuk kebutuhan rumah tangga dan pekerjaan berbasis daring.
“Dengan adanya layanan swasta seperti Starlink, masyarakat cukup terbantu. Tapi itu bukan berarti kita menghentikan upaya pembangunan menara. Infrastruktur tetap kita dorong,” tegasnya.
Secara umum, dirinya menyebut sebagian besar desa di Kabupaten Kepulauan Anambas telah terjangkau sinyal. Namun, masih terdapat sejumlah dusun yang belum stabil atau memiliki kapasitas terbatas, termasuk di Desa Nyamuk.
Pemerintah daerah berkomitmen untuk terus mengusulkan peningkatan layanan ke operator agar kebutuhan masyarakat terhadap akses komunikasi dan pengiriman dokumen secara digital dapat terpenuhi secara optimal.(BK/Jun).












