Buton Tengah – Bupati Buton Tengah, Dr. Azhari, menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi ruas jalan provinsi yang menghubungkan Tampo dan Waara yang hingga kini masih mengalami kerusakan dan menjadi keluhan masyarakat.
Menurut Azhari, ruas jalan tersebut memiliki peran strategis karena menjadi jalur penghubung antara wilayah timur dan selatan Pulau Muna serta akses penting menuju Pulau Buton melalui Pelabuhan Waara.
Jalur ini juga menjadi bagian dari rantai transportasi darat dan penyeberangan yang menghubungkan Sulawesi Selatan, Kolaka, Kendari, Pulau Muna, hingga Pulau Buton.
“Jalan ini merupakan jalan provinsi yang sangat vital karena menghubungkan Pelabuhan Tampo dengan Pelabuhan Waara. Jalur ini menjadi akses utama masyarakat yang melakukan perjalanan dari Pulau Muna menuju Kendari maupun dari Pulau Buton menuju Kendari melalui Torobulu,” Tulis Azhari dalam unggahnya.
Ia menjelaskan, nilai strategis jalan tersebut semakin tinggi karena terdapat sekitar dua hingga tiga kilometer ruas jalan yang berada tepat di antara Kantor Bupati dan Rumah Jabatan Bupati. Sebagai kepala daerah, dirinya hampir setiap hari melintasi ruas jalan tersebut untuk menjalankan aktivitas pemerintahan.
Azhari mengaku kondisi jalan yang rusak tidak hanya mengganggu kenyamanan pengguna jalan, tetapi juga menimbulkan berbagai persoalan sosial di tengah masyarakat. Saat musim hujan, genangan air kerap terbentuk di sejumlah titik jalan berlubang, sementara saat cuaca panas debu tebal menjadi keluhan warga sekitar.
“Kami sering melihat warga meletakkan batu atau penghalang di tengah jalan agar kendaraan melambat sehingga tidak memercikkan air atau menimbulkan debu. Secara aturan tentu tidak dibenarkan, tetapi kami memahami kondisi yang dihadapi masyarakat,” katanya.
Ia juga mengaku kerap merasa serba salah ketika melihat warga mengalami kecelakaan akibat kondisi jalan yang rusak. Di sisi lain, dirinya juga sering mendapati masyarakat secara swadaya menimbun lubang jalan maupun berdiri di tepi jalan meminta bantuan sukarela dari pengguna jalan.
“Sebagai bupati tentu saya merasa tidak nyaman melihat kondisi seperti ini. Menutup lubang jalan seharusnya menjadi tugas pemerintah, bukan masyarakat. Kami mengapresiasi niat baik warga, tetapi jangan sampai hal tersebut menjadi kebiasaan yang kurang baik,” ungkapnya.
Terkait penanganan jalan tersebut, Azhari mengatakan pihaknya telah berulang kali menyampaikan kondisi ruas jalan itu kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara. Ia berharap perbaikan dapat segera direalisasikan meskipun pemerintah saat ini menghadapi keterbatasan anggaran akibat kebijakan efisiensi.
“Saya sudah menyampaikan persoalan ini kepada Pemerintah Provinsi dan Insya Allah tahun ini akan dikerjakan. Kalau pun masih ada pertimbangan prioritas karena ada ruas jalan lain yang lebih rusak di daerah lain, tentu kita harus memakluminya mengingat kondisi anggaran saat ini,” jelasnya.
Azhari juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas belum maksimalnya penanganan ruas jalan tersebut. Ia menegaskan bahwa dirinya turut merasakan dampak dari kerusakan jalan yang setiap hari dilalui untuk menuju rumah jabatan maupun kantor bupati.
“Kepada masyarakat yang melintas di jalan itu saya mohon maaf. Yang merasakan sulitnya melewati ruas tersebut bukan hanya masyarakat, tetapi saya juga hampir setiap hari melaluinya karena itu merupakan akses utama dari kantor menuju rumah jabatan,” tuturnya.
Ia menambahkan, berdasarkan informasi terakhir yang diterimanya, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara berencana membantu pengaspalan sepanjang satu hingga dua kilometer pada ruas jalan tersebut tahun ini.
“Insya Allah tahun ini Pak Gubernur akan membantu pengaspalan sekitar satu hingga dua kilometer. Semoga dapat segera terealisasi dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Aamiin,” pungkasnya.
Laporan : Haris













