Di Ujung Negeri, SAR Natuna Tanamkan Kesadaran Keselamatan Laut Sejak Usia Dini

0
38
FOTO : Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Natuna saat mendukung kegiatan Rihlah Tarbiyah yang digelar SD IT Ranai di Pantai Cemaga, Kecamatan Bunguran Selatan, Sabtu (6/6/2026).

Natuna – Keselamatan di laut tidak hanya menjadi tanggung jawab para pelaut atau nelayan. Di Kabupaten Natuna, wilayah perbatasan Indonesia yang dikelilingi lautan luas, kesadaran akan pentingnya keselamatan bahkan mulai ditanamkan sejak usia sekolah dasar.

Komitmen tersebut ditunjukkan Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Natuna saat mendukung kegiatan Rihlah Tarbiyah yang digelar SD IT Ranai di Pantai Cemaga, Kecamatan Bunguran Selatan, Sabtu (6/6/2026).

Puluhan siswa dan siswi yang mengikuti kegiatan belajar dan bermain di alam tersebut mendapatkan pengawasan langsung dari personel SAR Natuna. Tidak hanya memastikan keamanan selama kegiatan berlangsung, para petugas juga memberikan edukasi mengenai keselamatan di kawasan perairan.

Kepala Kantor SAR Natuna, Abdul Rahman, mengatakan kehadiran personel SAR merupakan bentuk dukungan terhadap kegiatan pendidikan sekaligus upaya menanamkan budaya keselamatan sejak dini kepada generasi muda.

“Kami diminta mendukung dan mengawasi aktivitas siswa di pantai. Personel hadir dengan pakaian dan peralatan lengkap untuk memastikan keselamatan di air,” ujarnya.

Rihlah Tarbiyah sendiri merupakan kegiatan yang bertujuan mempererat silaturahmi antarsiswa melalui konsep pembelajaran di luar kelas. Kegiatan dikemas dalam suasana santai dengan berbagai aktivitas edukatif, permainan, dan penguatan nilai-nilai keagamaan.

Bagi SAR Natuna, kegiatan seperti ini menjadi momentum penting untuk mengenalkan prinsip-prinsip dasar keselamatan di lingkungan perairan kepada anak-anak yang tumbuh di daerah kepulauan.

Abdul Rahman menjelaskan bahwa setiap personel SAR selalu mengedepankan prinsip keselamatan penolong sebagai prioritas utama dalam setiap operasi maupun kegiatan edukasi. Karena itu, pemahaman mengenai risiko dan cara bertindak saat menghadapi kondisi darurat di air perlu diperkenalkan kepada masyarakat sejak usia dini.

“Keselamatan harus menjadi budaya. Kami ingin masyarakat memahami bahwa setiap tindakan penyelamatan memiliki tahapan dan perhitungan risiko yang harus diperhatikan, mulai dari tingkat risiko paling rendah hingga yang paling tinggi,” jelasnya.

Sebagai daerah yang berada di kawasan perbatasan dan termasuk wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar), Natuna memiliki karakteristik geografis yang sangat bergantung pada transportasi dan aktivitas laut. Kondisi tersebut menjadikan edukasi keselamatan perairan sebagai kebutuhan penting bagi masyarakat.

“Posisi Natuna di ujung utara Indonesia membuat edukasi keselamatan laut bukan pilihan. Dengan gugusan pulau dan laut yang sangat luas, pengetahuan menjadi pelampung utama bagi masyarakat,” kata Abdul Rahman.

Ia menambahkan, Kantor SAR Natuna terus membuka diri untuk bekerja sama dengan sekolah, organisasi, komunitas maupun instansi pemerintah yang ingin mendapatkan sosialisasi, edukasi, maupun pelatihan dasar tentang keselamatan dan pencarian serta pertolongan.

Layanan edukasi tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi masyarakat Natuna, tetapi juga mencakup wilayah Kabupaten Kepulauan Anambas yang sama-sama berada di kawasan perbatasan Indonesia bagian utara.

Kegiatan Rihlah Tarbiyah SD IT Ranai di Pantai Cemaga berlangsung aman dan lancar hingga selesai. Kehadiran personel SAR Natuna tidak hanya memberikan rasa aman kepada peserta, tetapi juga menghadirkan pelajaran berharga tentang pentingnya keselamatan di lingkungan laut.

Di tengah hamparan Laut Natuna yang luas, edukasi sederhana kepada anak-anak tersebut menjadi investasi jangka panjang dalam membangun budaya sadar keselamatan bagi generasi masa depan di ujung negeri.

Editor : Papi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini