Budayawan Buton Kritik Pengelolaan Aspal Buton, Pertanyakan Komitmen Kepala Daerah

0
36
Keterangan foto: La Yusrie dikenal sebagai Budayawan Buton, Pendiri The La Saila Institute, sekaligus Lakina Kamaru Lembaga Adat Kesultanan Buton.

Baubau – Budayawan Buton, La Yusrie, menilai keberadaan Aspal Buton yang selama ini digadang-gadang sebagai kekayaan alam unggulan justru menjadi ironi bagi masyarakat di wilayah Kepulauan Buton.

Pandangan tersebut disampaikannya saat menghadiri diskusi bertema “Hilirisasi Aspal Buton, Berkah atau Musibah bagi Negeri Khalifatul Khamis?” yang digelar di Aula Hotel Galaxy Inn, Kota Baubau.

Dalam forum itu, La Yusrie secara tegas menyebut Aspal Buton sebagai berkah yang berubah menjadi musibah. Menurutnya, keberadaan deposit aspal alam yang melimpah merupakan anugerah Tuhan yang tersimpan di perut bumi Pulau Buton. Namun, pemanfaatannya hingga kini dinilai jauh dari harapan masyarakat.

“Ini jelas berkah yang menjadi musibah. Berkah karena dianugerahkan Tuhan dan tersimpan di bumi Buton, tetapi menjadi musibah dalam pengelolaan dan pemanfaatannya,” ujarnya.

Ia menilai, persoalan Aspal Buton tidak semata-mata disebabkan oleh kebijakan pemerintah pusat maupun kepentingan para pengusaha besar yang selama ini sering dituding sebagai pihak yang menghambat pengembangannya. Menurutnya, masyarakat dan pemerintah daerah di wilayah Kepulauan Buton juga memiliki andil terhadap kondisi tersebut.

La Yusrie mempertanyakan komitmen pemerintah daerah dalam mendorong penggunaan Aspal Buton untuk pembangunan infrastruktur di daerah sendiri.

“Berapa banyak kepala daerah di Kepulauan Buton yang benar-benar memberi perhatian terhadap penggunaan Aspal Buton? Adakah yang mengeluarkan peraturan daerah yang mewajibkan penggunaan Aspal Buton untuk jalan-jalan kabupaten atau kota?” katanya.

Ia mengaku sejauh yang diketahuinya, belum banyak pemerintah daerah yang memiliki kebijakan konkret terkait kewajiban penggunaan Aspal Buton dalam proyek pembangunan jalan.

Menurutnya, keberhasilan pemanfaatan Aspal Buton sangat bergantung pada keberpihakan kebijakan. Tanpa adanya regulasi dan komitmen pemerintah, penggunaan Aspal Buton akan sulit berkembang meskipun potensinya sangat besar.

“Kita sering lantang memprotes Jakarta, tetapi pada saat yang sama menutup mata terhadap kenyataan di depan kita sendiri,” tegasnya.

La Yusrie juga menyoroti kondisi infrastruktur di Desa Pongkoliwu, Kecamatan Kambowa, Kabupaten Buton Utara. Ia menyebut masyarakat setempat terpaksa melakukan aksi pemblokiran jalan karena akses utama yang telah puluhan tahun rusak belum juga mendapat perhatian serius.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi gambaran nyata paradoks pengelolaan Aspal Buton. Di satu sisi, wilayah tersebut menyimpan cadangan aspal alam yang melimpah, namun di sisi lain masyarakat masih harus berjuang menghadapi jalan rusak yang belum teraspal.

“Kita berbicara tentang Aspal Buton, sementara saudara-saudara kita di Pongkoliwu harus memblokir jalan yang lebih dari tiga dekade diabaikan. Kubangan jalan dibiarkan menganga tanpa lapisan aspal, padahal jutaan ton deposit aspal tersimpan di bawah tanah mereka. Ini ironi yang tidak hanya memilukan, tetapi juga memalukan,” ungkapnya.

Sebagai bentuk kritik terhadap tata kelola Aspal Buton, La Yusrie bahkan mengusulkan lahirnya film dokumenter yang secara khusus mengangkat persoalan tersebut.

“Barangkali perlu dibuat dokumenter berjudul Pesta Aspal, yang mengungkap abainya negara dan bobroknya pengelolaan Aspal Buton. Dengan cara itu, persoalan ini bisa mengguncang kesadaran Indonesia,” pungkasnya.

La Yusrie dikenal sebagai Budayawan Buton, Pendiri The La Saila Institute, sekaligus Lakina Kamaru Lembaga Adat Kesultanan Buton.

Laporan : Haris 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini