Farid Feidiansyah Sumbang Emas Porprov Kepri VI, Karate Natuna Buktikan Mental Juara

0
21
FOTO : Farid Feidiansyah, atlet karate Forki Natuna kelas -75 kilogram,

Tanjungpinang – Jumlah atlet yang terbatas bukan alasan untuk kehilangan peluang meraih prestasi. Di tengah ketatnya persaingan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kepri VI 2026, seorang karateka muda asal Kabupaten Natuna membuktikan bahwa keberanian, disiplin, dan mental juara mampu mengantarkan seseorang ke podium tertinggi.

Dialah Farid Feidiansyah, atlet karate Forki Natuna kelas -75 kilogram, yang sukses mempersembahkan medali emas bagi daerahnya.

Bertanding di Vihara Batu 14, Kota Tanjungpinang, Kamis (5/11/2026), Farid tampil penuh percaya diri. Ia melewati sejumlah pertandingan menghadapi karateka dari berbagai kabupaten dan kota di Kepulauan Riau, sebelum akhirnya memastikan kemenangan di partai final.

Ada cerita menarik di balik keberhasilan tersebut. Jika sejumlah kontingen daerah lain menurunkan dua atlet pada setiap kelas pertandingan, Forki Natuna justru hanya mengirimkan satu atlet untuk kelas -75 kilogram.

Namun, keterbatasan itu tidak membuat Farid gentar. Sebaliknya, ia menjawab kepercayaan daerah dengan penampilan maksimal hingga berhasil berdiri di podium tertinggi.

Usai memastikan kemenangan, Farid melakukan sujud syukur di atas tatami sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas perjuangan yang berbuah medali emas. Aksi tersebut sempat berujung pada sanksi denda sebesar Rp2 juta, karena berdasarkan hasil technical meeting, tindakan tersebut telah dilarang.

Meski demikian, persoalan itu akhirnya diselesaikan. Denda dibayarkan langsung oleh orang tua Farid yang sejak awal setia menyaksikan perjuangan putranya.

Kemenangan Farid menjadi kebanggaan tersendiri bagi tim karate Natuna. Pelatih karate Natuna, Herman, ST, mengungkapkan rasa haru dan syukurnya atas pencapaian tersebut.

Menurutnya, keberhasilan Farid merupakan buah dari kerja keras, disiplin, dan latihan yang selama ini dijalani.

Ia menegaskan, meskipun Natuna berada jauh di ujung utara Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), hal itu bukan berarti atlet-atletnya tidak mampu bersaing di tingkat provinsi.

Jarak geografis dan keterbatasan bukan penghalang bagi anak-anak Natuna untuk mengukir prestasi.

Sementara itu, Ketua Tim Ofisial sekaligus pelatih, Roy, juga menyampaikan rasa syukur atas keberhasilan Farid.

Roy menjelaskan, Forki Natuna hanya membawa lima atlet dalam Porprov Kepri VI 2026. Meski jumlahnya terbatas, tim tetap optimistis mampu memberikan hasil terbaik.

“Target kita satu medali emas dan Alhamdulillah sudah tercapai melalui Farid. Namun, perjuangan belum selesai karena masih ada empat atlet lagi yang belum bertanding,” ujar Roy.

Ia juga menilai dukungan dan doa orang tua memiliki peran penting dalam perjalanan para atlet, terlebih olahraga merupakan aktivitas positif yang perlu terus didukung.

Dukungan tersebut turut dirasakan Farid dari keluarganya. Muhammad Faizan, orang tua Farid, mengaku selalu memberikan dukungan terhadap aktivitas olahraga yang dijalani putranya.

“Sebagai orang tua, saya selalu mendukung kegiatan anak, apalagi kegiatan yang sifatnya positif,” tuturnya.

Faizan juga menceritakan bahwa pertandingan final berlangsung cukup menegangkan. Meski sempat terjadi insiden yang berujung pada denda, hal tersebut tidak membuat mental Farid jatuh.

Ia turut menyampaikan terima kasih kepada seluruh masyarakat Natuna yang telah memberikan dukungan dan doa selama putranya bertanding.

Farid Feidiansyah, sang peraih medali emas, juga mengungkapkan rasa syukurnya atas pencapaian tersebut.

“Keberhasilan ini tidak terlepas dari doa bapak dan ibu semua, sehingga saya mampu meraih medali emas. Terima kasih atas dukungan masyarakat Natuna,” ucap Farid.

Kini, keberhasilan Farid menjadi suntikan semangat bagi empat atlet karate Natuna lainnya yang masih akan menjalani pertandingan.

Perjuangan kontingen karate Natuna memang belum berakhir. Namun, dari daerah kepulauan yang berada jauh di utara Indonesia, Farid telah mengirimkan pesan sederhana tetapi kuat: keterbatasan jumlah atlet bukan alasan untuk menyerah, dan jauhnya jarak dari pusat persaingan bukan penghalang untuk menjadi juara.

Sebab, prestasi tidak selalu lahir dari kontingen terbesar. Terkadang, satu petarung dengan tekad kuat mampu membawa pulang kebanggaan bagi seluruh daerahnya.

Editor : Papi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini