
Bursakota.co.id, Buton Selatan – Festival Tenun Buton Selatan sukses digelar selama dua hari (22-23) di Desa Lontoi Kecamatan Siompu Kabupaten Buton Selatan.
Kegiatan ini berlangsung meriah dengan mengusung tema “Harmoni Benang dan Budaya”, yang memadukan pelestarian tradisi dengan penguatan potensi ekonomi kreatif berbasis budaya lokal, Jum’at (24/4/2026)
Festival ini didukung melalui program Dana Indonesiana, yakni dana abadi kebudayaan senilai Rp5 triliun yang dikelola bersama oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dan Kementerian Kebudayaan untuk mendukung pemajuan kebudayaan nasional.
Program tersebut memberikan fasilitasi hibah bagi individu, komunitas, dan lembaga budaya di seluruh Indonesia.
Dalam kegiatan tersebut dihadiri langsung oleh Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Buton Selatan, perwakilan Dinas Pariwisata, perwakilan Dinas Kominfo, Akademisi dosen dari Universitas Iqra Buru yang turut ambil bagian sebagai narasumber dalam seminar kebudayaan, Camat Siompu, Kepala Desa Lontoi, Tokoh Adat, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, Aparat kepolisian Polsek Siompu, Babinsa serta masyarakat Kecamatan Siompu.
Koordinator kegiatan Rizkiani dalam sambutannya menyampaikan bahwa penyelenggaraan festival ini merupakan bentuk kepedulian bersama dalam menjaga dan mengembangkan warisan budaya tenun khas Buton Selatan agar tetap lestari di tengah arus modernisasi.
“Kegiatan ini sebagai sarana awal. Harapannya, setelah ini pemerintah dapat memberi perhatian lebih terhadap tenun Desa Lontoi agar bisa dikembangkan menjadi sektor ekonomi kreatif,”ujarnya.
Ia menambahkan, pihaknya juga berencana menyusun buku katalog agar masyarakat bisa mengenal lebih jauh sejarah dan motif tenun yang ada di sini.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Buton Selatan Amir Sarlito Womal, S.Pd., M.Eng menegaskan bahwa tenun tradisional memiliki nilai strategis sebagai identitas daerah sekaligus sumber ekonomi masyarakat.
Ia berharap festival ini dapat menjadi agenda rutin yang mampu memperluas pasar tenun lokal hingga ke tingkat nasional dan internasional.
Sementara itu, perwakilan Dinas Pariwisata Wa Ode Irma yani, S.Si menyatakan pihaknya akan membantu pengembangan tenun lokal melalui strategi pemasaran digital serta fasilitasi pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dan Kami akan mengoptimalkan branding tenun lokal agar mampu menembus pasar nasional hingga global.
Selain itu, kami juga akan memfasilitasi pendaftaran HKI agar produk ini memiliki perlindungan hukum.
Dalam momen yang sama, seminar kebudayaan menjadi salah satu rangkaian penting dalam festival ini.
Akademisi dari Universitas Iqra Buru Dr. Risman Iye, S.Pd., M. Hum menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, masyarakat dalam mengembangkan warisan budaya tenun secara berkelanjutan.
Menurutnya, inovasi dalam desain, kualitas produk, serta strategi pemasaran berbasis digital menjadi langkah penting untuk meningkatkan daya saing tenun Buton Selatan di pasar yang lebih luas.
Antusias masyarakat Desa Lontoi dan sekitarnya terlihat tinggi sepanjang kegiatan berlangsung. Berbagai diskusi budaya, pameran hasil tenun hingga pertunjukan seni tradisional dipadati pengunjung yang langsung menyaksikan kekayaan budaya daerah.
Dengan suksesnya penyelenggaraan Festival Tenun Buton Selatan ini, diharapkan mampu memperkuat identitas budaya sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui pengembangan sektor ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.
Laporan : La Ode












