IAI Natuna dan UniSZA Telusuri Jejak Peradaban Melayu-Islam, Perkuat Kerja Sama Akademik

0
18
FOTO : Institut Agama Islam Natuna (IAI Natuna) memperkuat jaringan akademik internasional melalui keikutsertaan dalam Program Wacana Antarabangsa Pasca SEMMA 2026 bertajuk “Sejarah dan Manuskrip Alam Melayu: Memperkukuh Jaringan Akademik Natuna–Terengganu”, yang diselenggarakan Institut Penyelidikan Produk dan Ketamadunan Melayu Islam (INSPIRE), Universiti Sultan Zainal Abidin (UniSZA), Malaysia.

Bursakota.co.id, Malaysia – Institut Agama Islam Natuna (IAI Natuna) memperkuat jaringan akademik internasional melalui keikutsertaan dalam Program Wacana Antarabangsa Pasca SEMMA 2026 bertajuk “Sejarah dan Manuskrip Alam Melayu: Memperkukuh Jaringan Akademik Natuna–Terengganu”, yang diselenggarakan Institut Penyelidikan Produk dan Ketamadunan Melayu Islam (INSPIRE), Universiti Sultan Zainal Abidin (UniSZA), Malaysia.

Kegiatan yang berlangsung pada Ahad (18/10/2026) tersebut digelar di Bilik Mesyuarat Fakulti Pengajian Kontemporari Islam (FKI), Kampus Gong Badak, UniSZA, mulai pukul 08.00 hingga 15.00 waktu setempat.

Program ini menjadi ruang akademik untuk menelusuri sejarah, manuskrip, serta jejak peradaban Melayu dan Islam yang menjadi warisan bersama masyarakat serumpun di Natuna dan Terengganu.

Keikutsertaan IAI Natuna juga merupakan bagian dari tindak lanjut kerja sama antara kedua institusi setelah penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) antara UniSZA dan IAI Natuna.

Wacana tersebut menghadirkan empat narasumber, yakni Rektor IAI Natuna, Dr. Umar Natuna; PM. Dr. Wan Mohd Yusof Wan Chik dari INSPIRE, UniSZA; Dr. Hamdan Aziz dari R-TIHiLS/Universiti Malaysia Terengganu (UMT); serta Dato Haji Mohd Yusof Abdullah dari PSMCT.

Mengungkap Jejak Peradaban Melayu-Islam di Natuna

Dalam pemaparannya, Dr. Umar Natuna menguraikan berbagai jejak sejarah peradaban Melayu dan Islam di Natuna, mulai dari hubungan perdagangan maritim, temuan keramik dan tembikar, keberadaan makam-makam tua, hingga tradisi masyarakat yang menyimpan nilai sejarah.

Ia juga memperkenalkan potensi Geopark Natuna sebagai kekayaan alam dan budaya yang menjadi bagian penting dari identitas daerah.

Menurutnya, berbagai peninggalan sejarah tersebut perlu terus diteliti dan didokumentasikan untuk mengungkap perjalanan masyarakat Natuna, termasuk hubungan perdagangan, perkembangan kehidupan sosial, serta penyebaran Islam di kawasan tersebut.

Penelitian berkelanjutan diharapkan tidak hanya memperkaya khazanah sejarah lokal, tetapi juga memperkenalkan warisan Natuna kepada masyarakat internasional melalui kajian akademik yang lebih luas.

Batu Bersurat Terengganu Jadi Sorotan

Sementara itu, Dato Haji Mohd Yusof Abdullah membahas Batu Bersurat Terengganu, salah satu artefak penting dalam kajian sejarah perkembangan Islam dan penggunaan tulisan Jawi di Alam Melayu.

Batu bersurat yang ditemukan pada 1889 di Kampung Buluh, Kuala Berang, Hulu Terengganu, tersebut memuat penanggalan 702 Hijriah atau 1303 Masehi.

Artefak ini menjadi salah satu bukti penting dalam penelitian mengenai perkembangan Islam, tradisi penulisan, serta kehidupan masyarakat Melayu pada masa lampau.

Pembahasan tersebut membuka ruang untuk melihat hubungan sejarah dan kebudayaan masyarakat Melayu di berbagai wilayah, termasuk kemungkinan keterkaitan jalur perdagangan maritim yang menghubungkan kawasan Natuna dan Semenanjung Melayu.

Perkuat Kolaborasi Penelitian Lintas Negara

Diskusi antara para narasumber dan peserta turut menyoroti persamaan sejarah, perdagangan, kebudayaan, penyebaran Islam, serta warisan masyarakat Melayu di Natuna dan Terengganu.

Selain pertukaran pengetahuan, kegiatan ini juga membahas peluang penelitian bersama, dokumentasi peninggalan sejarah, serta pengembangan kajian peradaban Melayu-Islam.

Melalui forum tersebut, IAI Natuna berharap hubungan akademik dengan UniSZA dan institusi pendidikan tinggi lainnya di Malaysia dapat terus berkembang melalui kolaborasi penelitian, pertukaran ilmu pengetahuan, serta penerbitan karya ilmiah.

Kerja sama ini dinilai penting untuk memperluas perspektif akademik mengenai sejarah kawasan perbatasan maritim Indonesia-Malaysia, khususnya dalam memahami warisan peradaban yang tumbuh dari hubungan antarmasyarakat serumpun.

Wacana Antarabangsa Pasca SEMMA 2026 sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat peran perguruan tinggi dalam merawat dan mengembangkan warisan sejarah Melayu-Islam.

Dengan kolaborasi akademik yang berkelanjutan, jejak peradaban masa lalu diharapkan tidak sekadar menjadi catatan sejarah, tetapi juga sumber pengetahuan, identitas budaya, dan inspirasi bagi generasi mendatang.

Bagi Natuna, penguatan jaringan akademik internasional ini membuka peluang agar kekayaan sejarah dan budayanya semakin dikenal serta mendapat tempat dalam kajian peradaban Melayu di tingkat regional maupun internasional.

Editor : Papi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini