
Tanjungpinang – Anggota DPRD Provinsi Kepulauan Riau sekaligus Ketua Fraksi Partai Gerindra, Marzuki SH, menegaskan bahwa kritik terhadap pemerintah merupakan bagian penting dari kehidupan demokrasi yang harus dihormati.
Namun, ia mengingatkan agar kritik yang disampaikan tetap berfokus pada kebijakan dan program pemerintah, bukan mengarah pada serangan terhadap pribadi Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.
Pernyataan tersebut disampaikan Marzuki menanggapi sejumlah pernyataan mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM) periode 2025, Tio Ardianto, yang belakangan menjadi perbincangan publik.
Menurut Marzuki, Fraksi Gerindra DPRD Kepri menghormati hak setiap warga negara, termasuk mahasiswa, untuk menyampaikan kritik, masukan, maupun koreksi terhadap jalannya pemerintahan.
“Kami selaku anggota Fraksi Gerindra DPRD Provinsi Kepulauan Riau tidak pernah membatasi siapa pun untuk mengkritik pemerintah. Kritik merupakan bagian dari demokrasi dan sangat diperlukan sebagai bahan evaluasi serta perbaikan dalam menjalankan roda pemerintahan,” ujar Marzuki, Senin (15/6/2026).
Namun demikian, ia menilai sejumlah pernyataan yang disampaikan Tio Ardianto telah keluar dari substansi kritik terhadap kebijakan dan lebih mengarah kepada serangan terhadap pribadi Presiden Prabowo Subianto.
Marzuki menegaskan bahwa masyarakat memiliki hak untuk mengawasi dan mengkritisi berbagai program pemerintah, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Merah Putih, maupun program-program strategis lainnya yang saat ini sedang dijalankan.
“Kalau Program Makan Bergizi Gratis, Koperasi Merah Putih, atau program-program pemerintah lainnya, silakan dikritisi dan dievaluasi. Kami menyadari tidak semua program berjalan dengan sempurna dan tentu masih ada kekurangan yang harus diperbaiki,” katanya.
Menurutnya, pemerintah sendiri secara berkala melakukan evaluasi terhadap berbagai program prioritas untuk memastikan manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat serta sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
Karena itu, Marzuki mengajak seluruh elemen masyarakat untuk membangun budaya kritik yang sehat, objektif, dan konstruktif.
“Sekali lagi kami menghimbau kepada Tio dan seluruh pihak yang ingin menyampaikan kritik, silakan mengkritik Pak Prabowo sebagai Presiden Republik Indonesia. Kritiklah kebijakan, program, dan pelaksanaannya. Namun jangan menyerang pribadi beliau,” tegasnya.
Lebih lanjut, Marzuki mengajak mahasiswa sebagai agen perubahan untuk tetap menjalankan fungsi kontrol sosial terhadap pemerintah.
Menurutnya, peran mahasiswa sangat penting dalam mengawal jalannya pembangunan dan memastikan setiap program benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.
Ia bahkan mendorong masyarakat untuk aktif melaporkan berbagai persoalan yang ditemukan di lapangan, termasuk dalam pelaksanaan program-program pemerintah.
“Jika menemukan hal-hal yang tidak sesuai di lapangan, baik dalam pelaksanaan dapur MBG maupun penyaluran kepada penerima manfaat, silakan disampaikan. Kalau perlu diviralkan agar menjadi perhatian bersama. Kami siap menindaklanjuti sebagai bahan evaluasi dan perbaikan,” ujarnya.
Marzuki menegaskan bahwa kritik yang berbasis data, fakta, dan kepentingan masyarakat akan jauh lebih bermanfaat dibandingkan serangan personal yang berpotensi mengaburkan substansi persoalan.
Menurutnya, tujuan seluruh elemen bangsa sejatinya sama, yakni memastikan program-program pemerintah berjalan dengan baik, tepat sasaran, dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Kami percaya mahasiswa, masyarakat, dan pemerintah memiliki tujuan yang sama, yaitu membangun bangsa ini menjadi lebih baik. Karena itu mari kita jaga ruang demokrasi dengan kritik yang cerdas, santun, dan bertanggung jawab demi kepentingan rakyat Indonesia,” pungkasnya. (Bk/Dika)












