Bursakota.co.id, Anambas – Dimulainya proses audit proyek revitalisasi Pasar Loka Tarempa, Kabupaten Kepulauan Anambas, memunculkan dua sisi respons dari publik harapan akan kelanjutan pembangunan, sekaligus kewaspadaan agar kegagalan serupa tidak kembali terulang.
Di tengah keinginan masyarakat agar proyek mangkrak itu segera menemukan titik terang, Majelis Pimpinan Cabang (MPC) Pemuda Pancasila Anambas meminta pemerintah tidak terburu-buru membuka tender ulang sebelum hasil audit dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Provinsi Kepulauan Riau rampung.
Ketua MPC Pemuda Pancasila Anambas, Arpandi, menegaskan bahwa langkah tersebut penting sebagai bentuk kehati-hatian, mengingat proyek yang telah berjalan selama dua tahun itu tercatat sudah dua kali mengalami kegagalan.
“Sebagai bahan pertimbangan, sebaiknya pihak Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) tidak buru-buru melakukan pelelangan ulang. Tunggu hasil audit BPKP terlebih dahulu,” ujarnya kepada Bursakota.co.id, Senin (20/04/2026).
Menurutnya, audit menyeluruh menjadi kunci untuk mengungkap penyebab utama proyek tidak selesai sesuai target. Tanpa evaluasi yang komprehensif, keputusan lanjutan dikhawatirkan hanya akan mengulang kesalahan yang sama.
Ia menilai, hasil audit nantinya harus menjadi dasar dalam menentukan langkah strategis, baik dari aspek teknis, administrasi, maupun penentuan tanggung jawab pihak-pihak yang terlibat.
Arpandi juga mendorong agar temuan audit dikonsultasikan dengan Aparat Penegak Hukum (APH) apabila terdapat indikasi pelanggaran dalam pelaksanaan proyek.
“Karena seharusnya proyek ini sudah menjadi atensi aparat penegak hukum dan tidak tertutup kemungkinan sudah ada langkah-langkah hukum,” katanya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa pelelangan ulang yang dilakukan tanpa dasar evaluasi yang jelas berisiko memunculkan persoalan baru, bahkan berpotensi lebih kompleks dari sebelumnya.
“Kami khawatir jika dilakukan terburu-buru, maka akan terjadi hal serupa dan mungkin lebih sulit diselesaikan. Satu kesalahan yang dibiarkan bisa memicu kesalahan yang lebih besar,” tegasnya.
Kegagalan proyek Pasar Loka Tarempa tidak hanya berdampak pada aspek pembangunan, tetapi juga menghantam langsung kehidupan para pedagang. Harapan untuk memiliki fasilitas perdagangan yang layak harus tertunda, bahkan berubah menjadi beban ekonomi tambahan.
Sejumlah pedagang terpaksa menyewa tempat lain atau menumpang berjualan demi mempertahankan penghasilan keluarga. Kondisi ini mencerminkan dampak nyata dari proyek yang belum terselesaikan.
“Daerah dirugikan dan masyarakat menjadi korban. Banyak pedagang yang menggantungkan hidup dari pasar ini, namun kini harus bertahan dengan kondisi seadanya,” ungkap Arpandi.
Situasi tersebut menjadi pengingat bahwa setiap langkah lanjutan dalam proyek ini harus dilakukan secara cermat dan terukur. Harapan untuk menghidupkan kembali Pasar Loka Tarempa tetap ada, namun publik menuntut agar prosesnya tidak lagi diwarnai kegagalan yang sama.(BK/Jun).













