Rumah Warisan Orang Tua Roboh ke Laut, Nora Hanya Bisa Menatap Puing dan Memikirkan Masa Depan Dua Anaknya

0
11
FOTO : Nora (27), warga Desa Nyamuk, Kecamatan Siantan Timur, Kabupaten Kepulauan Anambas.

Bursakota.co.id, Anambas – Suara berderak yang terdengar pada malam sebelumnya tak pernah disangka menjadi pertanda musibah besar bagi Nora (27), warga Desa Nyamuk, Kecamatan Siantan Timur, Kabupaten Kepulauan Anambas.

Perempuan yang sehari-hari mencari nafkah dengan berjualan kue keliling itu mengira suara tersebut hanya berasal dari lembaran atap asbes yang terlepas akibat diterpa angin malam.

Namun, kenyataannya jauh lebih menyakitkan. Suara itu merupakan tanda rumah satu-satunya peninggalan orang tuanya mulai kehilangan penopang.

Keesokan harinya, Selasa (4/8/2026), rumah yang telah menjadi tempat berteduh bagi Nora dan kedua anaknya serta suaminya ambruk ke laut dalam hitungan detik.

Saat peristiwa itu terjadi, Nora tengah bersiap memulai rutinitasnya sebagai penjual kue. Seperti biasa, ia hendak mengambil jajakan dari para pembuat kue-keue yang akan dijualnya kepada warga di sekitar Desa Nyamuk.

Di tengah kesibukannya, kabar mengejutkan datang dari tetangga yang memberitahukan bahwa rumahnya telah roboh. Awalnya, Nora mengaku tidak percaya dengan informasi tersebut.

Namun, ketika melihat langsung ke lokasi, rumah yang selama ini menjadi tempat pulang bagi keluarganya benar-benar telah hilang, menyisakan puing-puing yang hanyut di bibir laut.

Bagi Nora, rumah itu bukan sekadar bangunan. Rumah tersebut merupakan kenangan pemberian kedua orang tuanya, tempat ia membesarkan dua anaknya sekaligus menyimpan harapan akan kehidupan yang lebih baik.

Kini, harapan itu seolah ikut runtuh bersama tiang-tiang rumah yang tak lagi mampu menahan beban.

Untuk sementara waktu, Nora bersama suami dan kedua anaknya terpaksa menumpang tinggal di rumah orang tuanya. Namun, ia mengaku belum mengetahui bagaimana harus memulai kembali kehidupannya setelah kehilangan tempat tinggal.

“Untuk sementara mungkin saya tinggal di rumah orang tua. Tapi saya berharap ada bantuan dari pemerintah. Selama ini rumah saya belum pernah mendapat bantuan rehabilitasi maupun program bedah rumah,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Di balik kesedihan itu, Nora tetap harus memikirkan hari esok. Sebagai ibu dari dua anak, ia masih harus berjualan kue setiap pagi demi memenuhi kebutuhan keluarga, meski kini ia tak lagi memiliki rumah untuk kembali.

Musibah yang menimpa Nora menjadi potret nyata masih adanya warga yang tinggal di rumah-rumah pesisir dengan kondisi memprihatinkan dan belum tersentuh program bantuan perumahan.

Kini, yang tersisa bagi Nora hanyalah harapan agar ada uluran tangan yang dapat membantunya bangkit dan kembali memiliki tempat yang layak untuk disebut sebagai rumah.(BK/Jun).

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini